{"id":1007,"date":"2020-11-09T11:49:49","date_gmt":"2020-11-09T04:49:49","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=1007"},"modified":"2020-11-09T12:01:28","modified_gmt":"2020-11-09T05:01:28","slug":"mengenal-istilah-akustik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/11\/09\/mengenal-istilah-akustik\/","title":{"rendered":"MENGENAL ISTILAH AKUSTIK"},"content":{"rendered":"<p>Istilah akustik sangat dekat\u00a0 dengan kehidupan kita, khususnya yang\u00a0 bekecimpung di bidang musik. Istilah ini banyak sekali digunakan untuk menyebutkan jenis sebuah intrumen musik, misalnya \u2018gitar akustik\u2019 dan penggunaan lainnya adalah sebagai sebuah formasi ensambel (band) tertentu. Terlepas dari penggunaan istilah-sitilah tersebut, tidak banyak orang\u00a0 mengetahui bahwa sebenarnya akustik memiliki pengertian yang jauh berbeda dan mermakna lebih dari satu; tergantung situasinya. Sebelum menyimpulkan bagaimana istilah akustik itu digunakan, sebaiknay kita mengetahui terlebih dahulu apa dan bagaimana akustik itu digunakan.<\/p>\n<p><strong>Pengertian Akustik<\/strong><\/p>\n<p>Akustik adalah salah satu cabang fisika yang mempelajari suara, getaran dan sifat-sifatnya serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari (Sumoro, 2008:2). Dalam kamus musik Pono Banoe (2003: 18) dijelaskan bahwa: 1) akustik merupakan ilmu pengetahuan tentang suara (bunyi) berkenaan dengan keindahan dan kesempurnaan pendengaran dalam suatu ruangan; 2) akustik juga dengan suara asli tanpa bantuan penguat bunyi, seperti: <em>amplifier<\/em>, <em>microphone<\/em> dan semacamnya. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan pengertian akustik sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>mengenai atau berhubungan dengan organ pendengar, suara, atau ilmu bunyi: saraf &#8211;;<\/li>\n<li>rancangan dan sifat khusus ruang rekaman, pentas, auditorium, dan sebagainya.;<\/li>\n<li>tempat rekaman atau reproduksi suara dilaksanakan;<\/li>\n<li>keadaan ruang yang dapat mempengaruhi mutu bunyi.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Penggunaan Istilah akustik<\/strong><\/p>\n<p>Dari beberapa pengertian tersebut dapat dipahami bahwa istilah akustik sangat kontekstual atau berhubungan dan tergantung pada situasi tertentu. Akustik dapat berarti suatu \u2018ilmu\u2019, dapat juga berupa \u2018keadaan ruang\u2019; menjelaskan instrumen atau alat musik yang sumbernya dari alat itu sendiri. Dalam penggunaan istilah sehari-hari sering disebutkan istilah \u2019gitar akustik\u2019, ini berarti gitar dengan sumber suara dari alat tersebut resonansinya berasal dari alat itu\u00a0 sendiri. Gitar akustik sering juga disebut dengan \u2018gitar bolong\u2019 dalam bahasa sehari-hari. Sementara itu, penyebutan istilah akustik tidak hanya diperuntukkan untuk gitar saja, selama alat musik tersebut memiliki sumber bunyi sendiri tanpa bantuan \u2018kelistrikan\u2019 (<em>electricity<\/em>), maka dapat masuk kategori alat musik akustik,misalnya drum, bas akustik, kontra-bas, violin, cello, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Dalam kaitannya dengan suara, akustik digunakan sebagai standar untuk mengukur mutu bunyi sebuah ruangan. Misalnya, sebuah sebuah gedung pertunjukan biasanya harus memenuhi standar akustik tertentu agar bunyi yang dihasilkan maksimal saat diterima pendegar di ruangan itu. Akustik di sini memiliki pengertian sebuah ilmu yang digunakan untuk menunjang suara atau sebuah musik. Sehingga, tidak akan baik sebuah konser musik atau pertunjukan tertentu tanpa menggunakan ilmu akustik di dalam penataan dan pembangunnya. Dalam kasus ini, tidak banyak orang yang menyadari dan paham akan pentingnya ilmu akustik ini. Terkadang, orang-orang hanya merasa bahwa gedung pertunjukan itu baik dan kurang baik tanpa tahu mengapa bisa baik dan tidak baik. Inilah keterkaitan sebuah cabang ilmu fisika (akustrik) dengan musik yang tidak banyak orang tahu.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1008\" aria-describedby=\"caption-attachment-1008\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/lp4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1008 size-medium\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/lp4-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/lp4-300x225.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/lp4-326x245.jpg 326w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/lp4-80x60.jpg 80w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/lp4.jpg 460w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1008\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Contoh gedung pertunjukan (Grand hall) yang sudah menggunakan \u2018banner\u2019 dan panel reflektif untuk meningkatkan kinerja akustik (Sumber: google)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Selain penyebutannya sebagai salah satu jenis alat musik dan sebuah disiplin ilmu, akustik juga sering digunakan dalam dunia musik praktis sebagai salah satu sajian musik dengan formasi \u2018sederhana\u2019. Biasanya, anak-anak band mengenal istilah ini dengan \u2018akustikan\u2019. Pada keadaan tertentu formasi band yang normalnya menggunakan drum, gitar <em>electric, <\/em>bas <em>electric<\/em>, dan keyboard berubah dengan formasi lain, seperti gitar akustik, bas <em>electric<\/em> dan kajon (kahon; kayon), formasi ini sering disebut dengan formasik \u2018akustik\u2019. Berangkat dari salah satu sifat bahasa, yakni \u2018mana suka\u2019 (sesukanya), istilah akustik yang banyak digunakan oleh kalangan musisi-musisi (otodidak) untuk menyebutkan sebuah formasi dalam band. Istilah ini begitu berkembang dan semakin menjauh dari pemaknaan aslinya. Pada awalnya, penggunaan istilah ini hanya dipakai untuk memudahkan komunikasi antar pemain (player) saja, namun seiring berjalannya waktu dan didukung dengan semakin maraknya media online yang tidak bertanggung jawab menggunakan istilah ini, makna istilah akustik mengalami pergeseran. Selain istilah akustik, memang masih banyak kesalahpahaman mengenai penggunaan istilah musik yang berkembang dimasyarakat.<\/p>\n<p><strong>\u2018Akustikan\u2019 dan Amplifikasi<\/strong><\/p>\n<p>Di kalangan non-musisi (orang awam), istilah akustik semakin \u2018liar\u2019 digunakan untuk penyebutan formasi dengan personil yang \u2018sedikit\u2019dan alat musik yang cukup dominan yang tak jarang \u2018ciri\u2019formasi (akustik) tersebut dikaitkan dengan alat musik tertentu, misalnya kajon. Formasi akustik atau \u2018akustikan\u2019 dipahami sebagai sebuah formasi yang \u2018soft\u2019, tidak membawakan lagu-lagu \u2018keras\u2019, \u2018up-beat\u2019, dan semacamnya. Publik seolah membangun sendiri pengertian akustik dengan sesukanya. Sehingga, ketika dikembalikan pada makna asalnya istilah akustik terasa begitu asing dan kompleks. Padahal, jika dikembalikan kepada salah satu pengertian akustik; alat musik yang sumber bunyinya tanpa bantuan listrik, maka alat musik drum, gitar akustik, dan kajon sekalipun sebenarnya tidak lagi disebut sebagai akustik \u2018murni\u2019, tetapi sudah dibantu oleh amplifikasi. Amplifikasi adalah penggunaan unit elektronik untuk membantu memperkuat suara agar terdengar oleh pendengar\/penikmat\/penonton (<em>Audience<\/em>). Contoh amplifikasi sederhana adalah penggunaan <em>microphone<\/em> yang digunakan dalam setiap acara misalnya, bernyanyi, rekaman, serminar, workshop, penataran, pelatihan, simposium, konfrensi, rapat, dan lain-lain. Konsep amplifikasi tidak hanya digunakan oleh vokal\/suara manusia saja, tapi juga berlaku pada instrumen musik seperti gitar, bas, drum, piano, keyboard dan lain-lain. Sebuah gitar akustik yang sudah dilengkapi komponen elektronik yang terpasang di dalam \u2018body\u2019-nya dan \u2018input (kabel) jack\u2019 tidak lagi dikatakan sebgai gitar akustik sepenuhnya secara organologi (ilmu; studi mengenai alat musik). Namun dalam penyebutannya tetap bisa dikatakan gitar akustik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1009\" aria-describedby=\"caption-attachment-1009\" style=\"width: 200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/a51719e8-d579-424a-a642-e222bef62156.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1009 size-full\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/a51719e8-d579-424a-a642-e222bef62156.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/a51719e8-d579-424a-a642-e222bef62156.jpg 200w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/a51719e8-d579-424a-a642-e222bef62156-150x150.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 200px) 100vw, 200px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1009\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Komponen elektronik gitar akustik yang sudah terpasang (buit-in) di body gitarnya (Sumber: google)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Jadi, secara epistemologi sebaiknya kita mengetahui istilah musik tertentu sebelum menggunakannya dan menyebarkannya sebagai sebuah pengertian yang salah. Sehingga ilmu tidak mengalami degradasi karena penggunaan bahasa komunikasi pergaulan. Istilah musik harus disampaikan sesuai dengan makna dan konteksnya agar tidak terjadi pembiasan makna.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi<\/p>\n<p>Sumoro K, Y. H. (2011). <em>Pengantar ilmu akustik: Suara getaran dan pendengaran<\/em>. Jakarta: Nalar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah akustik sangat dekat\u00a0 dengan kehidupan kita, khususnya yang\u00a0 bekecimpung di bidang musik. Istilah ini<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":1009,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-1007","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-music"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1007"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1007"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1007\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}