{"id":97,"date":"2023-07-13T05:58:06","date_gmt":"2023-07-13T05:58:06","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/?p=97"},"modified":"2023-08-19T16:13:34","modified_gmt":"2023-08-19T16:13:34","slug":"dilema-keamanan-dan-perimbangan-kekuatan-di-asia-tenggara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/dilema-keamanan-dan-perimbangan-kekuatan-di-asia-tenggara\/","title":{"rendered":"Dilema Keamanan dan Perimbangan Kekuatan di Asia Tenggara"},"content":{"rendered":"<p>oleh <em><strong>Iwan Sulistyo<\/strong><\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-556\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/dilema-keamanan.jpg\" alt=\"\" width=\"1084\" height=\"817\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/dilema-keamanan.jpg 1084w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/dilema-keamanan-300x226.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/dilema-keamanan-1024x772.jpg 1024w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/dilema-keamanan-768x579.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 709px) 85vw, (max-width: 909px) 67vw, (max-width: 1362px) 62vw, 840px\" \/><\/p>\n<p><strong>(Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam <em><a title=\"http:\/\/www.harianhaluan.com\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=13613:dilema-keamanan-dan-perimbangan-kekuatan-di-asia-tenggara-&amp;catid=11:opini&amp;Itemid=83\" href=\"http:\/\/repository.lppm.unila.ac.id\/48722\/1\/Dilema%20Keamanan%20dan%20Perimbangan%20Kekuatan%20di%20Asia%20Tenggara%20%28Harian%20Umum%20Haluan%2C%2022%20Maret%202012%29..pdf\">Harian Umum Haluan<\/a><\/em>, 22 Maret 2012, <a title=\"http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln220312\" href=\"http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln220312\">http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln220312<\/a>. Artikel ini merupakan saduran atas ringkasan tesisnya yang berjudul <a href=\"https:\/\/iwansulistyo.files.wordpress.com\/2007\/12\/final-komplit-tesis-iwan-sulistyo-hi-ugm-2012-saved.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Kebijakan Pertahanan Indonesia 1998-2010 dalam Merespon Dinamika Lingkungan Strategis di Asia Tenggara<\/em><\/a> pada FISIPOL-UGM)<\/strong><\/p>\n<p><strong>PERTAHANAN INDONESIA<\/strong><\/p>\n<p>Lebih dari satu dekade sejak reformasi 1998 bergulir, publik pun bertanya soal apa dan bagaimana kebijakan Indonesia dalam merespon pembangunan militer negara-negara di Asia Tenggara, setidaknya hingga tahun 2010?<\/p>\n<p>Selama kurun 1998-2010, upaya Singapura, Malaysia, dan Thailand terlihat cukup intensif guna mempertangguh postur (kekuatan dan kemam\u00adpuan) pertahanan di ketiga armada militernya (darat, laut, udara). Dalam masa lebih dari satu dekade itu, Singapura adalah satu-satu\u00adnya negara yang sangat agresif.<\/p>\n<p>Tahun 2003, 2007, dan 2008 merupakan titik-titik penting di mana Indonesia terli\u00adhat berupaya mem\u00adperko\u00adkoh postur pertahanannya. Namun, sejak 1998, saat di mana krisis ekonomi menerpa Asia Tenggara dan reformasi domestik juga berlangsung, dapat dikatakan Indonesia tidak melakukan respon terha\u00addap kondisi perkembangan lingkungan strategis di Asia Tenggara. Masa ini lebih dititik-beratkan kepada upaya meletakkan fondasi kesis\u00adteman dan kelembagaan yang bersifat jangka panjang agar Departemen (kini Kemen\u00adterian) Pertahanan dan Mar\u00adkas Besar TNI menjadi ins\u00adtitusi-instutusi yang lebih transparan dan akuntabel dalam proses penganggaran serta pengadaan alutsista (alat utama sistem persen\u00adjataan), termasuk melakukan perumusan undang-undang di bidang pertahanan dan TNI.<\/p>\n<p>Upaya pengembangan pos\u00adtur militer Indonesia yang signifikan baru tampak pada tahun 2003 ketika Indonesia melakukan kontrak ($500 juta) pembelian persenjataan udara dengan Rusia (Sukhoi secara bertahap hingga ber\u00adjumlah 10 unit pada tahun 2010) dan rencana pengadaan empat unit kapal selam.<\/p>\n<p>Tahun-tahun 2007 dan 2008 adalah masa penting bagi perkembangan arah kebijakan pertahanan Indo\u00adnesia. Pada periode ini peme\u00adrintah mengeluarkan sejumlah dokumen yang cukup lengkap dalam mengelola kebijakan pertahanan (kebijakan umum pertahanan negara, postur pertahanan, strategi perta\u00adhanan, dan doktrin pertaha\u00adnan). Kendati juga dilakukan pembelian bertahap kapal korvet kelas <em>Sigma<\/em>, 33 panser APS-2 (6X6), helikopter Mi-35 &amp; Mi-17 serta 32 panser VAB dari Prancis untuk ope\u00adrasi perdamaian di Libanon, tetapi, dari segi <em>magnitude <\/em>(besaran), upaya Singapura dan Malaysia tampak jauh lebih menyeluruh dan berlipat-ganda.<\/p>\n<p>Selain itu, pelbagai indus\u00adtri strategis domestik yang dimi\u00adliki Indonesia tampaknya belum secara penuh men\u00addukung kebutuhan alutsista bagi ketiga angkatan. PT Pindad, salah satu industri strategis yang memang secara khusus menghasilkan produk bagi alutsista angkatan darat, cukup memperlihatkan pro\u00adduk\u00adtivitas yang berarti. Itu pun masih dalam sebagian peralatan yang berteknologi rendah dan menengah. Semen\u00adtara, industri strategis yang menghasilkan persenjataan guna mendukung postur ang\u00adkatan laut, yakni PT PAL, masih jauh dari harapan. Hal yang sama juga terjadi di PT DI (Dirgantara Indonesia) yang belum memberikan sumba\u00adngan signifikan bagi postur pertahanan udara.<\/p>\n<p>Aspek dana, pelembagaan riset dan pengembangan (R&amp;D), serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendu\u00adkung produktivitas merupakan kendala yang sangat men\u00addasar. Karenanya, bila yang menjadi sasaran dalam jang\u00adka panjang adalah kemandirian industri strategis untuk men\u00addukung sektor pertahanan, maka Indonesia harus secara cepat mengatasi kendala-kendala itu. Hal yang paling krusial dan penting untuk dibenahi adalah aspek SDM. Indonesia harus semakin memperbanyak lulusan di bidang teknik perkapalan dan pesawat terbang yang ber\u00adkualitas global, tentunya dengan tidak mengabaikan upaya pengembangan SDM yang mendukung teknologi militer. Ini secara perlahan juga dapat mengatasi keter\u00adgan\u00adtungan Indonesia pada teknologi luar negeri mengi\u00adngat Indonesia hanya baru mampu mengembangkan tek\u00adnologi pada tingkat rendah dan menengah.<\/p>\n<p><strong>Dilema Keamanan<\/strong><\/p>\n<p>Dilema keamanan yang terjadi di Asia Tenggara masih berada pada tingkat \u2018kompetisi persenjataan\u2019 kon\u00advensional, belum pada level perlombaan senjata yang sengit. Bila membandingkan aspek kuantitas persenjataan yang dimiliki negara-negara di Asia Tenggara, baik oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara masing-masing, Indonesia secara umum masih tertinggal. Inheren di dalam hal tersebut, sejumlah kendala seperti anggaran yang minim (rata-rata masih di bawah 1% dari Produk Domestik Bruto\/PDB), pelembagaan dan pendanaan R&amp;D yang belum sempurna, serta ganjalan embargo per\u00adsen\u00adjataan dari Amerika Seri\u00adkat yang pernah terjadi hingga tahun 2005 merupakan serang\u00adkaian tantangan yang dihadapi pemerintah In\u00addo\u00adnesia.<\/p>\n<p>Jika anggaran yang menja\u00addi kendala utama dalam pengembangan postur perta\u00adhanan Indonesia, maka upaya ke arah peningkatan PDB menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari. Dengan usaha melipat-gandakan besaran PDB, persentase besaran anggaran pertahanan diharap\u00adkan juga dapat ditingkatkan hingga menuju tingkat wajar dan ideal dari kerangka kebi\u00adjakan MEF (<em>Minimum Essen\u00adtial Force<\/em>) yang dianut Indonesia. Tanpa lompatan yang berarti ke arah itu, paling tidak sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan sangat jauh tertinggal di tingkat kawasan mengingat pemba\u00adngunan postur militer sebuah negara membutuhkan waktu yang tidak singkat.<\/p>\n<p>Penulis berargumen, kebi\u00adja\u00adkan pembangunan postur pertahanan Indonesia (darat, laut, dan udara) dalam meres\u00adpon pembangunan militer negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam kurun waktu 1998-2010 lebih dimak\u00adsudkan untuk mencapai ke\u00adkuatan <em>deterrent <\/em>daripada membangun kekuatan ofensif. Kebijakan tersebut dilakukan mengingat adanya persepsi bahwa negara-negara di kawa\u00adsan Asia Tenggara berpotensi untuk mengancam keamanan dan kedaulatan Indonesia. Sementara, kemampuan In\u00addonesia untuk membangun kekuatan militer di atas tingkat <em>deterrent <\/em>sangat ter\u00adbatas. Keterbatasan sumber dana dan dukungan politik serta kelemahan dalam me\u00adnga\u00adnalisis perkembangan lingkungan strategis kawasan menyebabkan kebijakan terse\u00adbut tidak mencapai tingkat <em>deterrent <\/em>dan juga belum sampai pada titik \u2018<em>strategic stability<\/em>\u2019.<\/p>\n<p>Kalau yang menjadi uku\u00adran perbandingan adalah jumlah persenjataan militer, Indonesia bahkan belum men\u00adcapai apa yang disebut seba\u00adgai <em>strategic stability <\/em>di kawa\u00adsan Asia Tenggara. Kemung\u00adkinan terburuk atau risiko yang akan dipikul oleh Indo\u00adnesia adalah \u2018potensi\u2019 agresi dari negara lain yang semakin membesar karena merasa memiliki postur militer yang lebih kredibel daripada Indo\u00adnesia. Kondisi di Asia Teng\u00adgara yang baru sampai pada tingkat kompetisi persen\u00adjataan ini akan mengarah ke dilema keamanan \u2018yang keras\u2019, yaitu perlombaan senjata, manakala Indonesia, sebagai negara yang terbesar dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk, melakukan upaya \u2018gebrakan\u2019 penguatan postur pertahanannya dengan kualia\u00adtas dan kuantitas yang signi\u00adfikan.<\/p>\n<p><strong>Perimbangan Kekuatan<\/strong><\/p>\n<p>Namun demikian, dalam konteks yang lebih makro, penguatan postur pertahanan oleh Indonesia bukan tanpa konsekuensi. Hal ini justru akan berimplikasi kepada respon negara-negara lain yang juga akan merasa terancam. Upaya Indonesia akan me\u00admunculkan rasa takut dan ancaman bagi negara-negara lain, sehingga memungkinkan mereka untuk kembali meres\u00adpon dengan melakukan pe\u00adnguatan postur pertahanan. Konsekuensinya, spiral aksi-reaksi dan dilema keamanan di Asia Tenggara akan me\u00adningkat tajam.<\/p>\n<p>Bisa jadi, <em>status quo<\/em> yang ada sekarang (hingga tahun 2010) dipandang sebagai suatu <em>strategic stability<\/em> karena terbukti belum pernah terjadi perang di tingkat kawasan ataupun eskalasi ketegangan yang mengarah ke kondisi hubungan yang lebih buruk. Atau, mungkin saja, bila ada lompatan besar Indonesia dalam melakukan penguatan postur di suatu masa tertentu akan menyulut rasa tidak aman bagi negara-negara lain dan mengarah kepada perlom\u00adbaan senjata yang lebih in\u00adtens.<\/p>\n<p>Lebih spesifik, bila dalam jangka waktu sepuluh tahun mendatang, paling tidak hingga tahun 2024, Indonesia secara bertahap memperkuat postur pertahanan sembari meningkatkan besaran PDB-nya, hal ini juga bukan tanpa masalah dalam konteks perim\u00adbangan kekuatan di tingkat kawasan. Penulis menengarai, spiral aksi-reaksi justru akan terjadi dengan lebih serius lagi karena melibatkan Indo\u00adnesia yang hampir sepuluh tahun belakangan tidak begitu gencar mengembangkan kemam\u00adpuan dan kekuatan militernya.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, melalui pertumbuhan ekonomi Indo\u00adnesia yang stabil dan diba\u00adrengi dengan peningkatan besaran PDB, kemudian alo\u00adkasi untuk anggaran pertaha\u00adnan bagi pembelian alutsista juga meningkat, ini diprediksi dapat mengarah kepada dile\u00adma keamanan di kawasan. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan dalam konteks politik internasional karena Indonesia adalah negara de\u00adngan posisi strategis secara geografis dan demografis yang dapat mengancam eksistensi negara-negara kunci seperti Singapura dan Malaysia.Memang, dengan upaya itu, di satu sisi, dalam hal kuan\u00adtitas persenjataan, apa yang disebut sebagai <em>strategic stability <\/em>dapat tercapai.<\/p>\n<p>Namun, di sisi lain, kompetisi persenjataan di masa depan juga menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Kondisi kom\u00adpetisi menuju perimbangan yang tidak kunjung usai ini niscaya dapat ditangani me\u00adlalui CBMs (<em>Confidence Building Measures<\/em>) dengan arti bahwa masing-masing negara secara sadar menyepakati aspek kualitas dan kuantitas persenjataan yang dimiliki, antara lain dengan tukar-menukar data rencana pemba\u00adngunan pertahanan. Hal ini penting mengingat pertaha\u00adnan-keamanan di Asia Teng\u00adga\u00adra cukup riskan bila tidak dikelola dengan melibatkan semua negara di kawasan ini.<\/p>\n<p>Santer diberitakan, peme\u00adrintah Indonesia berencana membeli 100 unit MBT (<em>Main Battle Tank<\/em>) bekas jenis <em>Leopard <\/em>dari Belanda dengan anggaran mencapai $280 juta. Dengan anggaran yang cukup fantastis itu, Indonesia lebih relevan untuk membeli pesa\u00adwat tempur (seperti 6 unit Sukhoi yang kini tengah diper\u00adbincangkan) atau kapal perang yang baru. Walaupun dengan jumlah yang tidak begitu banyak, tetapi jika kualitas\u00adnya mumpuni, maka secara umum dipandang cukup mem\u00adpertangguh postur pertahanan dan daya tangkal Indonesia. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa, sebagai negara kepulauan yang terluas di kawasan Asia Tenggara, lapis pertama pertahanan Indonesia adalah laut dan udara, dengan tidak menga\u00adbaikan pertahanan daratnya.<\/p>\n<p>Sungguhpun dibayang-bayangi oleh \u2018rantai api\u2019 FPDA (<em>Five Power Defense Arrange\u00adments<\/em>) serta IADS (<em>Integrated Air Defense System<\/em>) yang mengikat Malaysia-Singapura-Australia-Selandia Baru-Inggris sejak 1971 hingga kini, tetapi patroli secara bersama yang digelar di sejumlah perbatasan dan di beberapa titik-temu lalu-lintas pereko\u00adnomian dunia, utamanya di Selat Malaka (oleh Indonesia-Singapura-Malaysia), ter\u00admasuk di selatan Jawa dan Nusa Tenggara (Indonesia-Australia), dan di bagian utara (Indonesia-Filipina), seti\u00addaknya sanggup \u2018menangkal\u2019 rasa-takut yang dipikul In\u00addonesia.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh Iwan Sulistyo (Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam Harian Umum Haluan, 22 Maret 2012, http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln220312. Artikel ini merupakan saduran atas ringkasan tesisnya yang berjudul Kebijakan Pertahanan Indonesia 1998-2010 dalam Merespon Dinamika Lingkungan Strategis di Asia Tenggara pada FISIPOL-UGM) PERTAHANAN INDONESIA Lebih dari satu dekade sejak reformasi 1998 bergulir, publik pun bertanya soal apa dan bagaimana &hellip; <a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/dilema-keamanan-dan-perimbangan-kekuatan-di-asia-tenggara\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Dilema Keamanan dan Perimbangan Kekuatan di Asia Tenggara&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,15,1,8],"tags":[],"class_list":["post-97","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-international-relations","category-international-relations-in-southeast-asia","category-uncategorized","category-strategic-studies"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":557,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97\/revisions\/557"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}