{"id":110,"date":"2023-07-13T06:14:26","date_gmt":"2023-07-13T06:14:26","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/?p=110"},"modified":"2023-08-19T15:55:49","modified_gmt":"2023-08-19T15:55:49","slug":"kapolda-baru-ragam-tantangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/kapolda-baru-ragam-tantangan\/","title":{"rendered":"Kapolda Baru, Ragam Tantangan"},"content":{"rendered":"<p>oleh\u00a0<em><strong>Iwan Sulistyo<\/strong><\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-412\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/kapolda-baru-ragam-tantangan--1024x651.jpg\" alt=\"\" width=\"840\" height=\"534\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/kapolda-baru-ragam-tantangan--1024x651.jpg 1024w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/kapolda-baru-ragam-tantangan--300x191.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/kapolda-baru-ragam-tantangan--768x488.jpg 768w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/kapolda-baru-ragam-tantangan--1200x762.jpg 1200w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/kapolda-baru-ragam-tantangan-.jpg 1374w\" sizes=\"(max-width: 709px) 85vw, (max-width: 909px) 67vw, (max-width: 1362px) 62vw, 840px\" \/><\/p>\n<p><strong>(Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam <a href=\"http:\/\/repository.lppm.unila.ac.id\/48727\/1\/Kapolda%20Baru%2C%20Ragam%20Tantangan%20%28Haluan%2C%2027_3_2014%29.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Haluan<\/em><\/a>, 27\/3\/2014; <a href=\"http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln270314\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln270314<\/a>)<\/strong><\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>ajuk<\/strong> <em>Haluan <\/em>(19\/\u00ad3), \u201cSelamat Bertugas Brigjen Bambang\u201d, penting dan menarik un\u00adtuk dicermati. Di situ dising\u00adgung sejumlah tantangan yang akan dihadapi Kapolda Sumbar yang baru, Brigjen Pol Bambang Sri Herwanto (kelahiran 1962; lulusan Akpol 1984; kaya penga\u00adlaman di bidang reserse; sebelumnya menjabat Karo\u00adsunluhkum, Divkum Polri).<\/p>\n<p>Beberapa tantangan utama itu, antara lain, penertiban tambang liar di sejumlah kabupaten (Solok Selatan, Sijunjung, dan Dharmasraya) serta kerusa\u00adkan lingkungan yang di\u00adakibatkannya. Juga soal bagaimana menekan angka kriminalitas dan, tentu saja, penyelenggaraan pemilihan umum \u2013 baik legislatif dan presiden 2014 maupun pemilihan kepala daerah \u2013 dalam beberapa waktu mendatang.<\/p>\n<p>Brigjen Bambang mene\u00adgaskan tiga target pokok: (1) \u201cTidak ada darah mene\u00adtes\u201d (artinya tak ada perke\u00adlahian massa dan pembu\u00adnuhan); (2) \u201cTidak ada kaca yang pecah\u201d (tak ada perke\u00adlahian dan anarkis); serta (3) \u201cTidak ada asap di Sumbar terkait dengan pemilu\u201d (tak ada pembakaran dan perusakan). [<em>Haluan<\/em>, 20\/3]<\/p>\n<p>Dari tiga frase bersayap ini, tampak bahwa ia paham terhadap tantangan besar yang sudah di depan mata, yakni Pemilu Legislatif 9 April mendatang. Ia juga menyadari sepenuhnya, penyelenggaraan demokrasi prosedural di Sumbar mem\u00adbutuhkan perhatian dan penanganan ekstra.<\/p>\n<p>Lebih jauh, sebagai polisi sipil di tengah lalu-lintas kepentingan politik antarelit, aktor, dan faksi dari tingkat provinsial hingga lokal, ia berkomitmen untuk tetap di posisi netral dan profe\u00adsional. Komitmen yang lebih rinci, misalnya, juga tampak ketika Brigjen Bambang mengunjungi redaksi sejum\u00adlah harian lokal di Sumbar, Senin (24\/3) lalu.<\/p>\n<p>Tahun ini adalah tahun politik. Apapun bisa terjadi dan siapapun bisa berbuat <em>out of control. <\/em>Praktis, makna terhadap pengertian \u201csiapa mendapat apa, kapan dan bagaimana; serta sebe\u00adrapa banyak?\u201d sangat terasa kental dalam tahun ini.<\/p>\n<p>Bagaimanapun, upaya sang Kapolda hanya akan berarti manakala gelanggang pemilu diisi dengan etika, moral, dan kesantunan berpolitik. Di samping memperkuat konsolidasi internal tiap partai politik, para elit lokal juga harus mampu mengendalikan pendukungnya; terutama di tingkat akar rumput. De\u00adngan harapan, tidak ada gesekan kecil yang dapat memicu benturan dan letu\u00adpan besar. Kita semua berharap, kelak, jika terjadi \u201cselisih perolehan suara yang tipis\u201d ataupun keke\u00adcewaan terhadap \u2018wasit\u2019, itu tidak secara signifikan memengaruhi stabilitas keamanan.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Setiap perwira tinggi kepolisian yang ditunjuk menjadi pimpinan puncak pada tingkat provinsi di Indonesia adalah mereka yang telah berpengalaman, pun dibekali wawasan kepe\u00admimpinan dan manajerial. Karena itu, mereka akan selalu memiliki tantangan yang variatif dan kon\u00adtekstual. Ragam tantangan itu sifatnya cair; ia menyatu dengan dimensi kehidupan yang luas dan dinamis. Tinggal bagaimana memas\u00adtikan bahwa panel-panel, sistem, dan komponen yang bergerak di bawah komando mereka bekerja dengan baik.<\/p>\n<p>Dibanding dengan, misal\u00adnya, Metro Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NAD, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua (semua\u00adnya Polda tipe A; dijabat bintang dua), Sumbar relatif memang bukanlah provinsi yang terlalu besar dan strategis, apalagi secara ekonomi. Namun, bukan berarti Sumbar adalah pos yang tidak penting.<\/p>\n<p>Dengan total populasi nyaris 5 juta jiwa (mayo\u00adritas adalah muslim yang relatif kuat dengan nilai-nilai adat Minangkabau, termasuk budaya <em>merantau<\/em>-nya), jumlah penduduk miskin sekitar 380.626 jiwa (September 2013), angka pengangguran pada Agustus 2013 sebanyak 150,7 ribu orang (bertambah 8,5 ribu orang dari Agustus 2012; jumlah <em>trend<\/em> pengangguran laki-laki mengalami kenai\u00adkan dan perempuan menga\u00adlami penurunan dalam interval ini), serta pertum\u00adbuhan ekonomi pada 2011 sebesar 6,22% [semua meru\u00adjuk data BPS Sumbar], dan bahkan tidak pula memiliki sumber daya alam yang melimpah; Sumbar justru menyimpan potensi untuk menjadi salah satu contoh pembangunan kemitraan strategis antara polisi dan masyarakat. Ia juga dapat sebagai laboratorium masa\u00adlah-masalah sosial-ke\u00admasya\u00adrakatan.<\/p>\n<p><strong>Dua simpul <\/strong><\/p>\n<p>Bila mengamati kinerja institusi kepolisian secara umum, \u2018dimensi kunci\u2019 yang layak diungkap adalah <em>trust <\/em>(kepercayaan). Kepercayaan yang tinggi amat tergantung pada citra positif yang dibangun. Dari sini kita bisa mengurainya ke dalam dua simpul penting.<\/p>\n<p><em>Pertama<\/em>, ihwal tugas utama kepolisian: \u201cmemeli\u00adhara keamanan dan keter\u00adtiban masyarakat, menegak\u00adkan hukum, serta membe\u00adrikan perlindungan, pengayo\u00adman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.\u201d (UU No. 2\/2002 tentang Polri).<\/p>\n<p>Ketersediaan infrastruk\u00adtur ruang publik yang semakin baik, tidak menyu\u00adsutnya jumlah penduduk miskin, dan kian bertambah\u00adnya jumlah kelas-menengah \u2013 pada saat yang sama \u2013 niscaya menyimpan persoa\u00adlan besar. Sebagai provinsi yang berada di tengah Pulau Sumatera, Sumbar juga sangat rawan akan kejaha\u00adtan lintas-provinsi dan bahkan lintas-negara.<\/p>\n<p>Sungguhpun kejahatan, sebagaimana yang dikatakan sosiolog terkemuka dunia \u2013 Emil Durkheim, dipan\u00addang sebagai gejala yang normal di dalam masya\u00adrakat; tetapi, upaya mene\u00adkan <em>crime rate <\/em>(angka kejahatan) hingga ke titik terendah membutuhkan kerjasama multi-sektor, tidak hanya kepolisian. Lagipula, menurunnya <em>fear of crime <\/em>(rasa takut akan kejahatan) juga membu\u00adtuhkan peran media massa yang profesional.<\/p>\n<p>Menanggulangi kejaha\u00adtan jalanan bertaut dengan seberapa besar peran peme\u00adrin\u00adtah daerah dalam me\u00adnangani angka pengang\u00adguran usia produktif. Keter\u00adsediaan pelatihan keteram\u00adpilan, modal, dan birokrasi yang efektif dan efisien menjadi suatu yang tak terhindarkan. Alhasil, semua unsur pemerintah daerah harus kompak untuk mene\u00adkan angka putus sekolah.<\/p>\n<p>Kesempatan memperoleh kredit lunak, dari bank ataupun pemerintah, untuk modal berwirausaha bagi masyarakat harus didukung oleh karakter dan mentalitas manusia yang pekerja keras, gigih, bersemangat, kreatif, dan pantang menyerah.<\/p>\n<p>Hampir semua pemikir kriminologi sadar, tiada \u2018resep jitu\u2019 atau \u2018jawaban tunggal\u2019 dalam mencegah kejahatan. Namun, atas dasar kajian yang kompre\u00adhensif, polisi yang cerdas akan selalu memiliki strategi untuk membunuh pola tindak kejahatan, khususnya kejahatan jala\u00adnan, sejak dari embrio. Sementara, untuk kejahatan kerah putih (<em>White-Collar Crime<\/em>; melibat\u00adkan kelas atas), tentu butuh penanga\u00adnan dan keberanian tersen\u00addiri.<\/p>\n<p>Selain itu, dinamika penegakan hukum dalam spektrum ekonomi-politik (sejumlah titik yang me\u00adnyim\u00adpan kekayaan alam\/mineral) pun membutuhkan kehati-hatian. Dialog yang intensif dan saling mema\u00adhami perbedaan cara pan\u00addang antarpihak untuk mencapai kata mufakat penting dilakukan.<\/p>\n<p>Bila kepolisian berkomit\u00admen terhadap upaya untuk semakin melindungi, mela\u00adyani, dan mengayomi dalam \u2018menggunakan\u2019 serta \u2018mene\u00adgak\u00adkan hukum\u2019; wujud itu niscaya akan terlihat dari kian baiknya citra. Itu akan terbaca dari cepat-tanggap dan responsifnya mereka terhadap aduan masyarakat.<\/p>\n<p><em>Kedua<\/em>, soal <em>community policing <\/em>(sebagian pakar di Indonesia menerje\u00admahkan\u00adnya sebagai \u2018pemolisian komuniti\u2019; sebagian lainnya \u2018perpolisian masyarakat\u2019, Polmas). Terle\u00adpas dari perdebatan akade\u00admik soal penggunaan istilah serta bagaimana mengukur kegu\u00adnaan atau bahkan keberha\u00adsilan dalam konsep ini, kita rujuk saja Skep Kapolri No. 737\/2005 (disem\u00adpurnakan dengan Peraturan Kapolri No. 7\/2008) yang intinya Polmas mengandung tujuan agar rakyat dan aparat kepolisian bersinergi guna menyele\u00adsaikan pelbagi per\u00adsoa\u00adlan sosial dalam kehidu\u00adpan masyarakat dan mendu\u00adkung nilai-nilai kema\u00ad\u00adnu\u00adsiaan.<\/p>\n<p>Sejauh pengamatan saya, upaya membangun Polmas di Sumbar dilakukan dengan cukup serius dan intensif. Salah satunya oleh jajaran kepolisian di Kabupaten Dharmasraya. Sang Kapolres paham konsep dan juga cekatan dalam menerap\u00adkannya di lapangan. Walau masih terdapat kekurangan, tentu upaya itu layak diapresiasi.<\/p>\n<p>Daya dukung yang ber\u00adsum\u00adber dari kearifan lokal Minangkabau memung\u00adkinkan implementasi prog\u00adram Polmas berjalan dengan baik. Sebab, di ranah Minang terdapat apa yang disebut sebagai <em>tungku tigo sajarangan<\/em>; suatu keterpa\u00adduan erat antara tiga unsur penting dalam masya\u00adrakat(<em>niniak mamak<\/em>, <em>alim ulama<\/em>, dan <em>cadiak pandai<\/em>).<\/p>\n<p>Terlepas dari pergeseran makna filosofis adat itu dalam kondisi kekinian, beban Brigjen Bambang akan menjadi lebih ringan. Tinggal bagaimana memperkuat koordinasi dengan jajaran pada tingkat kabupaten\/kota. Betapapun jitu program yang ada, ia harus terlaksana dengan mantap oleh jajaran di lapangan.<\/p>\n<p>Penting pula untuk mendorong jajaran kepolisian di daerah agar memperkuat Polmas. Hal yang tidak dapat diabaikan ialah memperbanyak varian program dengan menjangkau lintas-usia dan lintas-kelompok. Mengintensifkan kemitraan dengan masyarakat, misalnya sosialisasi lewat jejaring sosial (24 jam sehari; utamanya menjangkau kelas-menengah yang rentan menjadi korban kejahatan), niscaya akan lebih efisien.<\/p>\n<p>Di samping \u201cpemenuhan aneka kebutuhan pokok dan disiplin sosial memang adalah kunci stabilitas dari suatu daerah\u201d; namun, kemitraan polisi-masyarakat merupakan aspek yang kritikal bagi pencapaian tertib hukum dan tertib sosial; termasuk usaha menyebarluaskan kampanye sadar hukum dan tertib berlalu-lintas agar terhindar dari kecelakaan di jalan raya.<\/p>\n<p>Kendati Polri hanya memperoleh alokasi angga\u00adran yang terbatas, sekitar Rp45 triliun untuk 2014 (termasuk tambahan Rp1 triliun bagi penyelenggaran Pemilu); akan tetapi, meng\u00adha\u00addirkan \u2018rasa aman dan tenang\u2019 di tengah rakyat adalah bagian penting dari pilar penopang kesejahteraan dalam arti yang sangat luas.<\/p>\n<p>***<\/p>\n<p>Kesemua ragam tanta\u00adngan di atas, dengan demi\u00adkian, mensyaratkan kerjasa\u00adma yang terpadu dan sepe\u00adnuh hati dari semua lapisan masyarakat; khusus\u00adnya dalam memberantas kejaha\u00adtan kekerasan yang akhir-akhir ini \u2013 sejauh penga\u00admatan saya \u2013 cukup intens dan meresahkan.<\/p>\n<p>Keamanan di Sumbar, sebagaimana provinsi-pro\u00advinsi lainnya, harus dita\u00adngani secara lintas sektor dan lintas disiplin; utama\u00adnya secara krimino\u00adlogis, sosiologis, antropologis, dan demografis.<\/p>\n<p>Ketika hendak menutup tulisan ini, sembari menik\u00admati secangkir kopi; entah mengapa, tiba-tiba saya teringat kata-kata Albert Einstein, seorang ilmuwan besar dunia: \u201c<em>The world is a dangerous place to live, not because of the people who are evil, but because of the people who don\u2019t do anything about it.<\/em>\u201d<\/p>\n<p>Selamat mengabdi di Ranah Minang, Jenderal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh\u00a0Iwan Sulistyo (Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam Haluan, 27\/3\/2014; http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln270314) Tajuk Haluan (19\/\u00ad3), \u201cSelamat Bertugas Brigjen Bambang\u201d, penting dan menarik un\u00adtuk dicermati. Di situ dising\u00adgung sejumlah tantangan yang akan dihadapi Kapolda Sumbar yang baru, Brigjen Pol Bambang Sri Herwanto (kelahiran 1962; lulusan Akpol 1984; kaya penga\u00adlaman di bidang reserse; sebelumnya menjabat Karo\u00adsunluhkum, Divkum Polri). Beberapa &hellip; <a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/kapolda-baru-ragam-tantangan\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Kapolda Baru, Ragam Tantangan&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11,1,12],"tags":[],"class_list":["post-110","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-local-security-issues","category-uncategorized","category-the-police"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":544,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110\/revisions\/544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}