{"id":106,"date":"2023-07-13T06:06:26","date_gmt":"2023-07-13T06:06:26","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/?p=106"},"modified":"2023-08-19T15:55:43","modified_gmt":"2023-08-19T15:55:43","slug":"menghindari-plagiarisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/menghindari-plagiarisme\/","title":{"rendered":"Menghindari Plagiarisme"},"content":{"rendered":"<p>oleh <em><strong>Iwan Sulistyo<\/strong><\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-full wp-image-540\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/menghindari-plagiarisme.jpg\" alt=\"\" width=\"743\" height=\"789\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/menghindari-plagiarisme.jpg 743w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/menghindari-plagiarisme-283x300.jpg 283w\" sizes=\"(max-width: 709px) 85vw, (max-width: 909px) 67vw, (max-width: 984px) 61vw, (max-width: 1362px) 45vw, 600px\" \/><\/p>\n<p><strong>(Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam Harian<em><a href=\"http:\/\/repository.lppm.unila.ac.id\/48726\/1\/Menghindari%20Plagiarisme%20%28Harian%20Haluan%2C%2018%20Maret%202014%29..pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Haluan<\/a>,<\/em> 18\/3\/2014, <a href=\"http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln180314\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln180314<\/a>)<\/strong><\/p>\n<p>Beberapa waktu la\u00adlu, seorang dosen cemerlang yang kebetulan men\u00adjabat se\u00adbagai salah satu direktur jenderal di suatu kementerian menjadi sorotan publik. Ia diduga kuat melakukan \u2018plagiat\u2019, yakni tindakan mengakui (sebagian atau keseluruhan) ide pihak lain sebagai buah pemi\u00adkirannya sendiri. Meminta maaf secara terbuka, ia akhirnya bersikap kesatria.<\/p>\n<p>Itu bukanlah kasus baru di Indonesia. Dengan be\u00adragam pola, sederetan kasus dugaan penjiplakan juga telah terekam dalam ingatan kita. Saya tidak akan menyebut nama-nama me\u00adreka. Rasaya tidak elok.<\/p>\n<p>Plagiarisme adalah isu yang sangat sensitif, teru\u00adtama di kalangan akademisi. Ia bisa dilakukan secara sengaja atau tidak oleh kalangan kampus atau masyarakat umum. Karena berkaitan erat dengan pelanggaran terhadap nilai-nilai etika, moral, dan bahkan hukum; tindakan itu dianggap aib, sesuatu yang amat memalukan.<\/p>\n<p>Bagaimanapun, kasus plagiarisme yang mencuat di Tanah Air, bahkan yang juga pernah terjadi di beberapa negara, selalu menarik untuk disimak dan dijadikan pelajaran berharga bagi kita di Sumatera Barat. Saya sebut itu sebagai \u2018pelajaran berharga\u2019, dengan harapan, agar tidak terjadi lagi di masa depan. Namun, buktinya, <em>history repeats itself<\/em>. Ya, sejarah mengulang dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Sampai di titik ini, kita patut merenung secara total: apa yang harus dilakukan? Dari mana memulainya agar tindakan plagiat tak terulang lagi, terutama di dalam lingkungan akademik?<\/p>\n<p>Lewat pelbagai aturan, pemerintah telah berupaya memberikan instrumen dan mekanisme guna mengatur, mengawasi, hingga me\u00adnindak. Di dunia ini tidak ada \u2018rumus sapujagad\u2019 atau \u2018tongkat ajaib\u2019 untuk me\u00admus\u00adnahkan ragam tindakan yang tidak beretika ataupun tindakan yang, pada kadar tertentu, disebut sebagai kejahatan. Di dalam setiap diri manusia, kelompok, negara-bangsa, dan bahkan sebuah peradaban akan selalu bersemayam sejarah masa lalunya, entah manis ataupun pahit, dengan kadar yang beragam.<\/p>\n<p>Para akademisi, di ham\u00adpir semua institusi pen\u00addidikan, paham bahwa \u201cfakta, peristiwa sejarah, pemahaman serta informasi yang bersifat umum dan telah diketahui oleh publik luas\u201d mungkin tidak me\u00admer\u00adl\u00adukan kutipan di dalam sebuah tulisan. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu, si penulis memandang perlu memberikan tambahan informasi atau komentar spesifik pada catatan kaki. Namun, tatkala itu sudah menyangkut data ataupun pemikiran dari pihak ter\u00adtentu, ia mutlak men\u00adcantumkan \u2018sumber\u2019.<\/p>\n<p>Mengutip berarti meng\u00adhargai \u2018buah pikir\u2019 manusia sebelumnya. Ia juga bermak\u00adna wujud kerendahan hati bahwa gagasan manusia masa kini sesungguhnya dibangun dan dikonstruksi dari aneka pemikiran ma\u00adnusia terdahulu.<\/p>\n<p>Dengan mencantumkan sumber atau rujukan di dalam tulisan, terutama tulisan akademik, akan memungkinkan semua pi\u00adhak yang berkepentingan untuk melakukan \u2018pene\u00adlusuran\u2019 dan <em>review<\/em>; entah mereka berusaha menjawab keingintahuan soal mengapa dan bagaimana ide-ide itu dibangun; mengoreksi atau\u00adpun menguatkan sejumlah argumen atau data yang tersaji; dan sebagainya. Dinamika itu berada dalam suatu ruang dialektis.<\/p>\n<p>Menanamkan dan me\u00adnularkan perilaku yang menjunjung tinggi etika dan integritas akademik dapat dimulai dari \u2018mahasiswa baru\u2019 pada tahun ajaran baru di perguruan tinggi. Itu terlepas dari derajat tinggi-rendah kemampuan dalam menulis yang mereka bawa dari jenjang pendidikan tingkat menengah.<\/p>\n<p>Kendatipun pengetahuan, pemahaman, dan keteram\u00adpilan menulis akan berkem\u00adbang seiring berjalannya masa studi di kampus; namun, semester pertama adalah fase penting bagi mereka dalam proses pem\u00adbentukan karakter. Mereka adalah generasi muda yang kritis sekaligus paling krusial.<\/p>\n<p>Upaya menghindari pla\u00adgia\u00adrisme yang dimulai dari mahasiswa baru ini, bagai\u00admanapun, berkaitan erat dengan aspek penulisan yang sifatnya sangat teknis. Karena itu, pelbagai diskusi kecil, <em>workshop<\/em>, atau bah\u00adkan seminar penulisan yang digelar di kampus menjadi sangat penting; dan memang seharusnya dilakukan. Syukur-syukur itu difasilitasi oleh perangkat universitas, institut, atau sekolah tinggi.<\/p>\n<p>Sasaran yang hendak dituju adalah bagaimana membuat rata-rata maha\u00adsiswa baru memiliki ke\u00admam\u00adpuan yang bernas dan cermat dalam menulis secara akademis. Sehingga, ketika di penghujung masa studi, mereka akan telah memiliki cukup keterampilan serta rasa percaya diri untuk menulis tugas akhir atau skripsi.<\/p>\n<p>Intinya, para mahasiswa baru harus diberi sejumlah kemampuan mendasar da\u00adlam penulisan. Hal itu, misalnya, berkaitan dengan: bagaimana berpikir logis dan sistematis yang terlahir dalam bentuk argumen yang kuat? Bagaimana cara mengutip? Apa saja ragam aturan dan <em>styles <\/em>pengutipan yang tersedia di dunia akademik secara universal? Apakah sumber yang di\u00adrujuk itu adalah sumber utama atau ia justru adalah yang kedua atau bahkan telah dikutip oleh penulis ketiga? Selain itu, bagai\u00admana pula teknis menulis ringkasan dan parafrase?<\/p>\n<p>Dengan begitu, mereka akan dapat mengidentifikasi: Bagian mana yang meru\u00adpakan pandangan baru atau argumen orisinal dari si penulis; mana yang meru\u00adpakan kutipan langsung; dan mana pula hasil ring\u00adkasan atau parafrase yang mendukung argumen sang penulis di dalam sebuah tulisan? Kesemuanya itu memang membutuhkan kecerdasan yang cukup. Kesemuanya itu juga berada dalam kerangka dan tujuan besar: \u201cguna membentuk watak serta pola pikir manusia yang sistematis dan bertanggung jawab.\u201d<\/p>\n<p>Maka, aktivitas mem\u00adbaca menjadi suatu kebutuhan dan keharusan. Para dosen dan mahasiswa senior me\u00admiliki tanggungjawab ber\u00adsama untuk menularkan \u2018budaya rajin membaca\u2019 kepada para mahasiswa baru. Mereka harus mem\u00adperluas jangkauan bahan bacaan; khususnya pada disiplin yang tengah mereka tekuni dan juga pada bi\u00addang-bidang lain yang penting demi menopang jenjang karier mereka kelak di dunia kerja.<\/p>\n<p>Kedudukan terhormat dan percikan sinar cemer\u00adlang suatu kampus, ter\u00admasuk kualitas para lulu\u00adsannya, akan sangat tergan\u00adtung pada seberapa kuat minat baca para maha\u00adsiswanya dan seberapa \u2018hidup\u2019 perpustakaannya. Perpustakaan adalah jantung akademik dari suatu kam\u00adpus. Sebagai ruang sentral, ia harus diisi dengan keter\u00adsediaan referensi yang lengkap dan terbaru walau\u00adpun me\u00admang para maha\u00adsiswa dapat menjaring secara selektif bahan bacaan yang berlimpah dari internet.<\/p>\n<p>Membaca adalah akti\u00advitas memaknai potongan kecil kenyataan dari realitas kehidupan yang serba luas dan serba kompleks. Dengan membaca, kita terdorong untuk menggali misteri kehidupan yang diciptakan Sang Pencipta. Lebih dari itu, lewat membaca, kita akan terinspirasi, semakin sadar, dan rendah hati bahwa ternyata masih banyak hal yang belum diketahui.<\/p>\n<p>Saya yakin, di setiap kampus di Sumatera Barat terdapat banyak pengajar yang visioner. Mereka adalah penyangga dan lentera utama untuk men\u00adcetak generasi muda yang kelak akan lihai-enerjik dalam bekerja, kritis ter\u00adhadap fakta, cermat ter\u00adhadap data, kuat dalam berargumen, hormat ter\u00adhadap sesama, serta ter\u00adhindar dari mimpi buruk plagiarisme.<\/p>\n<p>Memang tidak ada ja\u00adminan bahwa meng\u00adgembleng para mahasiswa baru untuk terampil menulis sejak dini akan berdampak jangka panjang bagi integritas mereka di masa depan.<\/p>\n<p>Akan tetapi, sekali se\u00adseorang \u2013 utamanya aka\u00addemisi \u2013 menjiplak karya pihak lain, maka, seumur hidup, komunitas akademik tak kan mempercayainya lagi; betapapun banyak dan seberapapun tajam buah pikir orisinal yang telah ia persembahkan bagi persada ilmu pengetahuan di masa lalu. ***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh Iwan Sulistyo (Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam Harian Haluan, 18\/3\/2014, http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln180314) Beberapa waktu la\u00adlu, seorang dosen cemerlang yang kebetulan men\u00adjabat se\u00adbagai salah satu direktur jenderal di suatu kementerian menjadi sorotan publik. Ia diduga kuat melakukan \u2018plagiat\u2019, yakni tindakan mengakui (sebagian atau keseluruhan) ide pihak lain sebagai buah pemi\u00adkirannya sendiri. Meminta maaf secara terbuka, ia &hellip; <a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/menghindari-plagiarisme\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Menghindari Plagiarisme&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,14,1],"tags":[],"class_list":["post-106","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-academic-ethics-academic-integrity","category-academic-writing","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":541,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106\/revisions\/541"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}