{"id":100,"date":"2023-07-13T05:58:42","date_gmt":"2023-07-13T05:58:42","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/?p=100"},"modified":"2023-08-17T11:55:29","modified_gmt":"2023-08-17T11:55:29","slug":"krisis-semenanjung-korea-dan-jalan-berliku-reunifikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/krisis-semenanjung-korea-dan-jalan-berliku-reunifikasi\/","title":{"rendered":"Krisis Semenanjung Korea dan Jalan Berliku Reunifikasi"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-418 alignleft\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/krisis-semenanjung-1.jpg\" alt=\"\" width=\"297\" height=\"320\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/krisis-semenanjung-1.jpg 297w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/krisis-semenanjung-1-278x300.jpg 278w\" sizes=\"(max-width: 297px) 85vw, 297px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-419\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/krisis-2.jpg\" alt=\"\" width=\"507\" height=\"869\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/krisis-2.jpg 507w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2023\/07\/krisis-2-175x300.jpg 175w\" sizes=\"(max-width: 507px) 85vw, 507px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>(Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam <em><a title=\"http:\/\/www.harianhaluan.com\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=13770:krisis-semenanjung-korea-dan-jalan-berliku-reunifikasi&amp;catid=12:refleksi&amp;Itemid=82\" href=\"http:\/\/repository.lppm.unila.ac.id\/48725\/1\/Krisis%20Semenanjung%20Korea%20dan%20Jalan%20Berliku%20Reunifikasi%20%28Harian%20Umum%20Haluan%2C%2029%20Maret%202012%29.pdf\">Harian Umum Haluan<\/a><\/em>, 29 Maret 2012, <a title=\"http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln290312\" href=\"http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln290312\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln290312<\/a>)<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kendati <\/strong>Perang Dingin usai (1989-90), tetapi Semenanjung Korea, khususnya, dan Asia Timur, umumnya, hing\u00adga kini masih menjadi salah satu \u2018daerah krisis\u2019 dan \u2018kawasan panas\u2019 dunia.<\/p>\n<p>Kapan saja, bila eskalasi konflik memuncak dan masing-masing aktor tak sanggup menahan diri, pertempuran berskala kecil (<em>skir\u00admish<\/em>), menengah, atau bahkan perang besar berpotensi meletup.<\/p>\n<p>Upaya <em>Six-Party Talks<\/em> (Amerika Serikat\/AS-Korea Utara-China-Jepang-Rusia-Korea Selatan) yang pernah digelar sejak 2003 guna membahas kepemilikan\/program nuklir pun tak membawa dua Korea melintasi jalan-cerah penyelesaian. Ia juga tak berdampak pada terbu\u00adkanya gembok pintu gerbang reu\u00adnifikasi (penyatuan kembali).<\/p>\n<p>Rencana peluncuran roket jarak-jauh oleh Korea Utara medio April 2012 mendatang, yang disinyalir AS sanggup menjangkau bagian selatan (Asia Tenggara dan Austra\u00adlia), adalah bukti keras dan bahkan kian mempertegas bahwa tampil\u00adnya Kim Jong-un (29 tahun), putera mendiang Kim Jong-il (pemimpin Korea Utara terdahulu), tidak menggeser sedikit pun sikap Pyong\u00adyang.<\/p>\n<p>Tindakan provokatif itu secara bersamaan juga memenggal hara\u00adpan upaya ke arah \u2018peredaan ketegangan\u2019 melalui kesepakatan <em>Leap Day<\/em> antara AS dan Korea Utara pada 29\/2\/2012 lalu, di mana Washington akan memasok bahan pangan ke Utara dengan imbalan Pyongyang mengurungkan niatnya dalam pengayaan uranium dan uji coba rudal.<\/p>\n<p>Sementara, kehadiran Presiden AS, Barack Obama, di daerah netral perbatasan kedua Korea (25\/3\/2012) menandakan krisis Semenanjung Korea merupakan masalah penting dalam menjaga \u2018rasa aman dan damai\u2019 bagi AS dan penduduk dunia.<\/p>\n<p>Ketegangan hubungan Korea Utara-Selatan dari waktu ke waktu memperlihatkan pola yang sangat jelas di mana \u201creaksi militer pihak yang satu adalah respon dari aksi militer pihak yang lain\u201d. Artinya, sikap reaktif-militer Korea Utara merupakan tanggapan atas sikap provokatif-militer Korea Selatan, dan sebaliknya. Aksi-reaksi yang terjadi antarmereka dapat berupa penambahan jumlah persenjataan konvensional, latihan militer di kawasan dekat perbatasan, dan utamanya penambahan serta gelar kekuatan hulu-ledak nuklir.<\/p>\n<p>Sungguhpun kunci utama penye\u00adlesaian krisis Semenanjung Korea melibatkan empat aktor besar (AS, China, Rusia, &amp; Jepang), tetapi, di atas semua itu, titik-temu yang akan diraih akan sangat ditentukan oleh seberapa besar itikad internal dua Korea. Jauh lebih memung\u00adkinkan untuk mencapai reunifikasi manakala campur-tangan pihak asing diminimalkan atau, kalau bisa, tidak ada sama sekali. Dan ini sangat sulit.<\/p>\n<p>Persoalan mendasarnya adalah bagaimana elit Utara-Selatan, sebagai \u2018satu bangsa\u2019 yang berasal dari nenek moyang yang sama, mampu menahan ego dan sikap agresif yang tak terbendung di antara mereka hingga ke titik terendah, sehingga memungkinkan mereka untuk hidup berdampingan tanpa kebencian.<\/p>\n<p>Kim Jong-un bukanlah Kim Jong-il, dan Kim Jong-il juga bukan Kim Il-sung. Akan tetapi, estafet generasi kepemimpinan yang terus bersambung lintas-zaman di Pyong\u00adyang telah menggoreskan \u2018rekaman unik\u2019 dalam gerak-sejarah perpu\u00adtaran dunia.<\/p>\n<p>Langkah berani Deng Xiaoping dalam \u2018membuka\u2019 China pada 1970-an, entah separuh atau semua, dan kemudian membawa negerinya kepada pencapaian yang kini sangat gemilang, tampaknya tidak me\u00adngins\u00adpirasi, menyadarkan, atau bahkan memaksa Jong-il ataupun Jong-un serta para elit yang meme\u00adngaruhi keputusan politik di Pyong\u00adyang untuk \u2018membuka diri\u2019.<\/p>\n<p><em>A world without borders<\/em> (sebuah dunia tanpa sekat) agaknya tidak berlaku bagi elit sentral di Utara. Pyongyang tampaknya juga tidak (atau belum) berpikir akan keun\u00adtungan yang dapat diperoleh secara cerdas dari interaksi yang dijalin dengan negara-negara lain.<\/p>\n<p>Jalan berliku reunifikasi yang ditapaki dihadang oleh kehendak terbesar Utara di mana upaya reunifikasi harus berada \u2018di bawah bendera komunis\u2019. Selain itu, <em>Juche<\/em>, sikap \u2018berdiri sendiri\u2019 serta \u2018menutup diri dari dunia luar\u2019, suatu ideologi yang selama berpuluh-puluh tahun memang telah mengakar kuat di Utara, kian menjauhkan seme\u00adnanjung dari terpaan \u2018angin sejuk\u2019 perdamaian serta harapan \u2018sinar terang\u2019 kehidupan di masa depan.<\/p>\n<p>Relatif sulit menerka dan berha\u00adrap apakah dalam jangka waktu lima atau sepuluh tahun ke depan sikap melunak Korea Utara dapat muncul agar reunifikasi bisa diraih, kecuali ada \u2018peristiwa luar biasa\u2019 yang berkaitan dengan suksesi rezim kepemimpinan puncak di Pyongyang. Juga cukup sulit untuk mem\u00adperkirakan kapan munculnya (atau berubahnya watak) seorang <em>leader <\/em>di Utara yang mampu mendekatkan jarak antara kepala (rasional) dan hati (nurani) di dalam dirinya.<\/p>\n<p>Sebab, persoalan Semenanjung Korea bukan semata upaya reuni\u00adfikasi serta masalah stabilitas kawasan Asia Timur yang berdam\u00adpak pada kawasan lain di sekitar\u00adnya. Tetapi, lebih dari itu, ia juga berjalin-berkelindan dengan nasib sebagian besar rakyat Korea Utara yang memerlukan kebutuhan dasar (<em>basic human needs<\/em>) untuk hidup layak sebagai manusia (pekerjaan, makanan, hunian, akses pendidikan, teknologi, kesehatan, air bersih, kenyamanan) yang justru telah dinikmati oleh sebagian besar warga di bagian selatan semenan\u00adjung itu. Menahan derita kemis\u00adkinan, tekanan politik, dan rasa lapar di tengah musim dingin yang beku oleh sebagian warga di Utara laksana mematahkan harapan akan kebahagiaan masa depan.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, di dalam struk\u00adtur dunia yang anarkis memang sangat sulit mengendalikan perilaku dan hubungan antarnegara-bangsa. Sejauh Utara-Selatan masih berta\u00adhan dengan prinsip yang dianut masing-masing, ditambah dengan dinamika faktor eksternal (kepen\u00adtingan empat negara besar; AS, China, Rusia, &amp; Jepang), jalan berliku menuju reunifikasi akan tetap menjadi jalan berliku.<\/p>\n<p>Elit di Pyongyang jelas tidak suka atas sikap liberal-demokratis Seoul yang terkesan tunduk pada AS. Namun, sebuah negara-bangsa, di kawasan manapun di dunia, boleh saja kukuh pada prinsip-luhur yang dianutnya, tetapi bukan berarti kaku dan menutup diri secara mutlak dari pergaulan internasional. Kini, Jong\u00ad-un dan elit di Utara tampak\u00adnya masih menjaga buhul \u2018tali silatur\u00adrahim\u2019 Pyongyang-Beijing yang kerap memperpanjang simpul \u2018tali keke\u00adsalan\u2019 Seoul.<\/p>\n<p>Saatnya juga telah tiba bagi pemimpin puncak di Selatan untuk merenung secara total bahwa mempertinggi derajat hubungan baik antara dirinya dengan Pyong\u00adyang dan \u2018menjaga jarak\u2019 dengan AS akan memungkinkannya untuk mencapai reunifikasi, betapapun sulit dan pahit langkah itu.<\/p>\n<p>Cara mendiang Presiden Kim Dae-jung dalam memimpin Korea Selatan (1998-2003) agaknya bisa menjadi bahan renungan berharga bagi Presiden Lee Myung-bak yang sekarang bahwa: \u201cmeredakan kete\u00adgangan dengan Utara adalah langkah yang tak dapat diulur lagi\u201d. Pembicaraan intensif Pyongyang-Seoul (pernah digelar pada Juni 2000) dari hati ke hati ihwal kepentingan yang sangat mendasar sebagai sesama bangsa Korea niscaya sanggup mempersingkat liku jalan yang dihadapi.<\/p>\n<p>Lagipula, sulit membantah realitas di mana \u201cnasionalisme Korea (Utara &amp; Selatan) hidup, tumbuh, mekar dan bersemi di tengah taman sari inter\u00adnasionali\u00adsme\u201d.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; (Dari Iwan Sulistyo, dimuat dalam Harian Umum Haluan, 29 Maret 2012, http:\/\/issuu.com\/haluan\/docs\/hln290312) Kendati Perang Dingin usai (1989-90), tetapi Semenanjung Korea, khususnya, dan Asia Timur, umumnya, hing\u00adga kini masih menjadi salah satu \u2018daerah krisis\u2019 dan \u2018kawasan panas\u2019 dunia. Kapan saja, bila eskalasi konflik memuncak dan masing-masing aktor tak sanggup &hellip; <a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/krisis-semenanjung-korea-dan-jalan-berliku-reunifikasi\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Krisis Semenanjung Korea dan Jalan Berliku Reunifikasi&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,9,10,1],"tags":[],"class_list":["post-100","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-international-relations","category-international-relations-in-east-asia","category-korean-peninsula","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":420,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions\/420"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/iwansulistyo\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}