{"id":86,"date":"2012-02-23T15:58:29","date_gmt":"2012-02-23T08:58:29","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/?p=86"},"modified":"2022-08-25T14:19:10","modified_gmt":"2022-08-25T07:19:10","slug":"manfaat-peningkatan-mutu-produk-kopi-dalam-perspektif-perdagangan-kopi-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/2012\/02\/23\/manfaat-peningkatan-mutu-produk-kopi-dalam-perspektif-perdagangan-kopi-dunia\/","title":{"rendered":"MANFAAT PENINGKATAN MUTU PRODUK KOPI DALAM PERSPEKTIF PERDAGANGAN KOPI DUNIA"},"content":{"rendered":"<div>Oleh: Hamim Sudarsono (Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung)<\/div>\n<div><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/div>\n<div>\n<p>Kopi adalah komoditas bernilai ekonomi tinggi dan sekaligus merupakan salah satu bahan minuman paling populer di dunia.\u00a0 Diperkirakan sebanyak lebih dari 2,25 milyar gelas minuman kopi dikonsumsi oleh masyarakat dunia setiap harinya (Ponte, 2002).\u00a0\u00a0 Dengan demikian kopi merupakan komoditas global dan sekaligus menjadi penyumbang devisa besar pada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi peringkat keempat terbesar dunia setelah Brazil, Kolombia, dan Vietnam.\u00a0 <!--more-->Komoditas kopi memiliki sejarah panjang dan berperanan penting pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan, dan devisa negara.\u00a0 Perkebunan kopi mampu menyediakan lapangan kerja dan pendapatan kepada lebih dari dua juta kepala keluarga dan menghasilkan devisa negara lebih dari US$ 500 juta\/tahun pada periode 2006-2010 (Anonim, 2010).<\/p>\n<p>Dalam dekade terakhir ini rantai perdagangan kopi dunia dilaporkan mengalami perubahan yang sangat nyata.\u00a0 Perubahan ini \u00a0terutama disebabkan oleh deregulasi sistem perdangan dunia, perubahan pola konsumsi kopi masyarakat dunia, serta berkembangnya strategi koporasi internasional yang semakin dominan dalam sistem perdagangan kopi (Ponte, 2002).\u00a0\u00a0 Sistem perdagangan kopi yang semakin liberal dewasa ini memungkinkan konsumer kopi dapat memilih berbagai jenis dan ramuan kopi yang berasal dari berbagai negara dengan beragam teknik pengolahan, <em>packing, <\/em>serta<em> <\/em>proses penyiapan (<em>brewing),\u00a0 <\/em>yang berbeda-beda.\u00a0\u00a0 Pada umumnya dewasa ini semakin banyak konsumen kopi yang bersedia membayar lebih mahal untuk menikmati kualitas rasa yang prima dengan penyajian dan <em>packing <\/em>yang menarik.\u00a0\u00a0 Fenomena ini antara lain dapat dilihat dengan semakin berkembangnya beberapa restauran <em>franchise <\/em>kopi internasional, seperti misalnya \u201cStarbuck Coffee\u201d yang kini juga telah tumbuh menjamur di kota-kota besar di Indonesia.\u00a0 Contoh lokal tentang fenomena perubahan pola konsumsi kopi juga dapat dilihat pada berkembangnya bisnis \u201ckopi luwak\u201d yang harganya sangat mahal di Lampung.<\/p>\n<p><strong>MUTU KOPI DAN MANFAAT PENINGKATANNYA BAGI PETANI KOPI LAMPUNG<\/strong><\/p>\n<p>Dalam sistem perdagangan kopi dunia diterapkan sistem penilaian mutu kopi atau <em>coffee grading system.\u00a0 <\/em>Semakin tinggi <em>grade <\/em>kopi maka akan semakin mahal harganya.\u00a0 Secara umum, kualitas biji kopi yang diperdagangkan diklasifikasikan berdasarkan jumlah biji cacat, ukuran, dan kualitas biji.\u00a0 Terdapat dua metode klasifikasi kopi yang umum diterapkan, yaitu <a href=\"http:\/\/www.coffeeresearch.org\/coffee\/scaaclass.htm\">SCAA Green Coffee Classification Method<\/a> dan <a href=\"http:\/\/www.coffeeresearch.org\/coffee\/brazilclass.htm\">Brazilian\/New York Green Coffee Classification Method<\/a> .\u00a0 Dalam makalah ini disajikan metode pertama,\u00a0 yang secara ringkas mengikuti prosedur sebagai berikut (Anonim, 2011):<\/p>\n<p>Sebanyak 300 gram biji kopi diuji dengan saringan penyortir berukuran 14, 15, 16, 17, dan 18 mesh.\u00a0\u00a0 Kopi yang tersisa pada masing-masing ayakan selanjutnya ditimbang dan persentasenya dicatat.\u00a0 Berhubung menyortir sebanyak 300 gram biji kopi memerlukan waktu lama, dapat ukuran 100 gram jika diterapkan pada kopi berkualitas rendah.\u00a0\u00a0\u00a0 Untuk kopi berkualitas tinggi dengan tingkat biji cacat rendah tetap digunakan 300 gram kopi.\u00a0 Setelah proses penyortiran selanjutnya biji kopi diolah dengan cara digrongseng (<em>roasted<\/em>) dan dilanjutkan dengan penilaian rasa (<em>coffee cupping<\/em>). <em>\u00a0<\/em>Hasil pengujian mutu ini akan menghasilkan lima kelas mutu atau <em>grade <\/em>kopi, yaitu:<\/p>\n<p><strong>Specialty Grade Green Coffee (1):<\/strong>\u00a0 Tidak lebih dari 5 biji kopi dalam kondisi cacat penuh per 300 gram, tanpa kerusakan awal.\u00a0 Memiliki paling tidak satu atribut khas dalam bentuk, rasa, aroma, atau keasaman.\u00a0 Tidak ada kopi yang salah warna serta tidak ada <em>quaker <\/em>(kopi yang bantat dan tidak bisa masak setelah diolah).\u00a0 Kelembaban antara 9-13%.<\/p>\n<p><strong>Premium Coffee Grade (2):<\/strong> Sama seperti <em>grade 1 <\/em>tetapi tidak lebih dari 8 biji cacat penuh per 300 gram dan boleh ada kerusakan awal.\u00a0 Jumlah <em>quaker <\/em>maksimum = 3.<\/p>\n<p><strong>Exchange Coffee Grade (3):<\/strong> Tidak lebih dari \u00a09-23 cacat penuh per 300 gram biji; harus 50% di atas ayakan 15 dan tidak lebih dari 5% lolos dari saringan 14.\u00a0 Tidak boleh ada yang gagal dalam uji rasa dan jumlah quaker maksimum = 5.\u00a0 Kelembaban biji 9-13%.<\/p>\n<p><strong>Below Standard Coffee Grade (4):<\/strong> 24-86 biji cacat per 300 gram.<\/p>\n<p><strong>Off Grade Coffee (5):<\/strong> Lebih dari 86 biji cacat per 300 gram.<\/p>\n<p>Meskipun Provinsi Lampung dikenal sebagai wilayah penghasil kopi utama di Indonesia, pada umumnya perkebunan kopi di provinsi ini merupakan perkebunan rakyat yang dikelola secara tradisional.\u00a0 Para petani kopi di Lampung pada umumnya tidak melakukan tindakan pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi secara khusus sehingga kualitas kopi yang dihasilkan sangat ditentukan oleh kondisi alam dan iklim pada umumnya.\u00a0 Pada saat kondisi alam bersahabat dan populasi hama dan penyakit rendah, produksi kopi petani Lampung berkualitas bagus.\u00a0 Sebaliknya ketika iklim tidak mendukung serta serangan hama dan penyakit kopi meningkat maka kualitas kopi sangat rendah.\u00a0 \u00a0Kondisi ini menyebabkan petani kopi di Lampung tidak memperoleh keuntungan yang maksimal, terutama karena biji kopi yang dihasilkan berada dalam <em>grade <\/em>rendah.\u00a0 Yang lebih memprihatinkan, pada umumnya petani kopi di Lampung tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang sistem <em>grading <\/em>kopi sehingga menyerahkan harga jual kopi sepenuhnya kepada pedagang pengumpul.<\/p>\n<\/div>\n<p>Dengan berubahnya pola konsumsi kopi masyarakat dunia yang semakin mengedepankan kualitas maka petani kopi Lampung sebaiknya juga menyesuaikan diri sehingga bisa memperoleh keuntungan yang lebih baik dari lahan kopi yang dimilikinya.\u00a0 Salah satu upaya dasar untuk memproduksi kopi berkualitas ini adalah dengan memperbaiki kualitas lapangan biji kopi, terutama dengan mengurangi atau meminimalkan serangan hama penggerek buah kopi.\u00a0 Sebaik apapun upaya yang ditempuh untuk meningkatkan <em>grade <\/em>kopi, akan sulit memperoleh hasil <em>grade <\/em>tinggi apabila biji kopi yang diproduksi telah mengalami kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tanaman.<\/p>\n<p><strong>PENUTUP\u00a0 <\/strong><\/p>\n<p>Kualitas biji kopi sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya kopi yang diterapkan oleh petani.\u00a0\u00a0 Tidak mungkin dihasilkan kopi berkualitas tinggi dari praktik budidaya kopi yang tidak memperhatikan serangan hama dan penyakit kopi.\u00a0 Hama dan penyakit kopi tidak hanya menurunkan kuantitas atau produktivitas tetapi juga secara langsung menurunkan mutu biji kopi yang selanjutnya juga menurunkan harga jual.\u00a0 Secara konvensional, pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi dapat dilakukan dengan aplikasi pestisida.\u00a0 Namun demikian, berubahnya sistem perdagangan dan pola konsumi kopi dunia mengharuskan petani kopi untuk menerapkan cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang lebih ramah lingkungan.\u00a0 Cara pengendalian ini juga semakin dituntut dengan berkembangnya sistem sertifikasi komoditas perkebunan secara internasional.\u00a0 Beberapa importir kopi internasional dewasa ini telah mensyaratkan bahwa biji kopi yang diperdagangkan merupakan produk dari pertanian ramah lingkungan dan telah disertifikasi oleh badan sertifikasi komoditas perkebunan internasional (seperti misalnya <em>Rainforest Alliance). <\/em>\u00a0Di masa mendatang, produk perkebunan kopi yang tidak memperoleh sertifikasi dikhawatirkan hanya bisa dipasarkan secara lokal dengan harga yang sangat rendah.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Anonim.\u00a0 2011.\u00a0 Coffee Grading and Green Coffee Beans Classification. <a href=\"http:\/\/www.coffeeresearch.org\/coffee\/classification.htm\">http:\/\/www. coffeeresearch.org\/coffee\/classification.htm<\/a>.\u00a0 Diakses 4 Maret 2011.<\/p>\n<p>Anonim. 2010. <em>Ketersediaan area kopi di Lampung<\/em>. Tersedia di\u00a0 <a href=\"http:\/\/www.lampungprov.go.id\/?link=dtl&amp;id=1405\">http:\/\/www.lampungprov. go.id\/?link=dtl&amp;id=1405<\/a>. Diakses tanggal 22 Desember 2010.<\/p>\n<p>Ponte, S.\u00a0 2002. <a href=\"http:\/\/my.ewb.ca\/site_media\/static\/attachments\/threadedcomments_threadedcomment\/42867\/The%20Latte%20Revolution%20-%20Regulation%20markets%20and%20consumption%20in%20the%20global%20coffee%20chain.pdf\">&#8220;The \u2018Latte Revolution\u2019? Regulation, Markets and Consumption in the Global Coffee Chain&#8221;<\/a>. <em>World Development<\/em> (Elsevier Science Ltd.). Retrieved 2010-10-18.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Hamim Sudarsono (Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung) PENDAHULUAN Kopi adalah komoditas bernilai ekonomi tinggi dan sekaligus merupakan salah satu bahan minuman paling populer di dunia.\u00a0 Diperkirakan sebanyak lebih dari 2,25 milyar gelas minuman kopi dikonsumsi oleh masyarakat dunia setiap harinya (Ponte, 2002).\u00a0\u00a0 Dengan demikian kopi merupakan komoditas global dan sekaligus menjadi penyumbang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15,4],"tags":[],"class_list":["post-86","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bunga-rampai","category-riset"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}