{"id":258,"date":"2012-02-27T14:33:45","date_gmt":"2012-02-27T07:33:45","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/?p=258"},"modified":"2022-08-25T14:18:04","modified_gmt":"2022-08-25T07:18:04","slug":"berkunjung-ke-sarawak-negeri-jiran-yang-nyaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/2012\/02\/27\/berkunjung-ke-sarawak-negeri-jiran-yang-nyaman\/","title":{"rendered":"BERKUNJUNG KE SARAWAK: Negeri Jiran yang Nyaman"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Riverfront-with-Pak-Gabe2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-259 alignleft\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Riverfront-with-Pak-Gabe2-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Riverfront-with-Pak-Gabe2-300x225.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Riverfront-with-Pak-Gabe2.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>Pada bulan Maret 2008 saya mendapat tugas dari Universitas Lampung untuk mengunjungi dan mempelajari sistem akademik Program Pascasarjana Universitas Malaysia (Unimas) di Sarawak, Malaysia Timur.<\/p>\n<p>Ketika beberapa kolega menanyakan ihwal keberangkatan saya ke salah satu negara bagian Malaysia ini, secara bercanda saya mengatakan bahwa saya akan menjadi TKI di Kalimantan Utara.\u00a0<!--more--> Dalam pikiran awam saya, Sarawak yang terletak di bagian utara Pulau Borneo dan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat ini kondisinya tidaklah jauh berbeda dengan provinsi-provinsi lain di Kalimantan.\u00a0 Ternyata, kunjungan saya selama dua minggu di negeri kenyalang ini membuat saya kagum dengan kondisi kesejahteraan rakyat Sarawak, dengan keteraturan dan kerapian kota-kotanya, serta dengan kemegahan kampus dan gedung-gedung sekolahnya.\u00a0 Tingkat kesejahteraan dan kondisi kampung-kampung yang saya kunjungi di wilayah-wilayah terpencilpun secara umum sangat baik untuk ukuran negara Asia.<\/p>\n<p>Selama bertugas di Unimas Sarawak saya didampingi oleh Profesor Gabriel Tonga, seorang dosen dari <em>Faculty of<\/em> <em>Resource Science &amp; Technology, <\/em>Unimas.\u00a0 Dosen ahli lingkungan yang keturunan Dayak Bidayuh ini, selain menjadi <em>counterpart <\/em>saya dalam tugas akademik saya di Unimas juga memperkenalkan berbagai aspek kehidupan di Sarawak, mulai dari kehidupan kampus, sosial, hingga budaya dan lain-lainnya.\u00a0 Saya berkesempatan menginap di rumah tradisional suku Dayak Iban yang panjangnya bisa mencapai 150-200 m dan dihuni oleh puluhan keluarga.\u00a0 Saya juga diajak untuk mengunjungi pasar perbatasan perbatasan yang semua pedagangnya orang Indonesia.\u00a0 Pengalaman inilah yang mendorong saya untuk berbagi cerita dengan pembaca Harian Lampung Post tercinta dengan harapan ada aspek-apek positif yang mungkin bisa bermanfaat.<\/p>\n<p><span style=\"color: #3366ff\"><strong>Jejak Sejarah Serawak <\/strong><\/span><\/p>\n<p>Ketika saya tiba di Bandara Internasional Kuching, Ibukota Sarawak, saya memperhatikan bahwa sebagian besar penumpang yang berasal dari Kuala Lumpur harus melewati jalur penumpang \u201cluar negeri\u201d.\u00a0 Ketentuan ini juga berlaku bagi warga negara Malaysia non-Sarawak atau penduduk Malaysia Barat.\u00a0 Saya mulai bertanya-tanya di dalam hati, mengapa warga negara Malaysia ini diperlakukan seperti warga negara asing ketika memasuki Sarawak yang termasuk wilayah Malaysia.\u00a0 Pertanyaan saya ini terjawab ketika saya mulai membaca sejarah Sarawak.\u00a0 Sistem imigrasi yang diterapkan di negeri yang berada di Borneo ini ternyata berkaitan dengan sejarah proses bergabungnya Sarawak ke dalam negara federasi Malaysia.<br \/>\nPada awal abad ke 19, Sarawak termasuk wilayah Kesultanan Brunei.\u00a0 Dalam periode pemerintahan Sultan Brunei Omar Ali Saifudin II (1827-1852), terjadi berbagai kerusuhan dan pemberontakan di Sarawak yang tidak bisa diatasi oleh pihak kesultanan.\u00a0 Akhirnya Pangeran Muda Hashim, Gubernur Sarawak pada masa itu, meminta bantuan <em>James Brook, <\/em>seorang utusan kerajaan Inggris, untuk memadamkan kerusuhan dan mengendalikan keadaan. Sebagai imbalannya, Kesultanan Brunei memberikan hadiah wilayah Kuching (sekarang Ibu Kota Sarawak) dan sekitarnya.\u00a0 Dalam perkembangannya Kesultanan Brunei kemudian mengangkat James Brook sebagai Gubernur Sarawak.\u00a0 James Brook akhirnya pada tahun 1842 mengukuhkan dirinya sebagai penguasa penuh Sarawak dan dikenal sebagai pendiri \u201dDinasti Rajah Putih\u201d.\u00a0 Dinasti Brook terus memperluas wilayahnya hingga Kesultanan Brunei akhirnya hanya menguasai daerah sungai dan pesisir, yaitu lokasi Kesultanan Brunei Darussalam saat ini.<br \/>\nDinasti Rajah Putih ini berlangsung hingga tiga generasi.\u00a0 Salah satu aspek pemerintahan dinasti Brook yang dianggap positif oleh masyarakat Sarawak adalah komitmennya untuk melindungi eksploitasi terhadap penduduk asli, khususnya suku-suku dayak, yang pada era itu relatif lebih terbelakang dibandingkan dengan etnis Melayu atau Cina. Dinasti Brook juga mengundang orang-orang Cina untuk datang ke Serawak, tetapi melarang kaum pedagang ini untuk tinggal di luar wilayah kota agar tidak merusak tradisi suku dayak Iban dan Bidayuh.<\/p>\n<p>Pada tahun 1941-1945 Jepang menduduki Sarawak dan Kalimantan.\u00a0 Dengan kekalahan Jepang pada akhir PD II pada tahun 1945, Dinasti Rajah Putih Brook menyerahkan kekuasaan kepada Kerajaan Inggris pada tanggal 1 Juli 1946.\u00a0 Pada masa-masa inilah, rakyat Sarawak menentang pemerintahan Inggris dan berakhir dengan pembunuhan terhadap Gubernur Inggris pertama di Sarawak pada tahun 1949.<br \/>\nAntara tahun 1962 hingga 1966, Sarawak merupakan medan utama dari Konfrontasi Indonesia-Malaysia, yang genderang perangnya ditabuh oleh Bung Karno, Presiden Pertama RI.\u00a0 Sebagian kelompok masyarakat Sarawak menginginkan agar Sarawak menjadi bagian dari Indonesia.\u00a0 Kelompok ini terutama dimotori oleh golongan komunis yang didukung oleh Indonesia.\u00a0 Sementara itu, kelompok lain yang didukung oleh Pemerintah Inggris sebagai kolonis Sarawak menginginkan agar Sarawak bersama Sabah dan Brunei bergabung dengan Malaya untuk membentuk Negara Malaysia.\u00a0 Sejarah akhirnya berpihak kepada Malaysia yang berhasil menggandeng Sarawak dan Sabah ke dalam negara federasi Malaysia.\u00a0 Brunei memilih untuk berdiri sendiri hingga kini.<\/p>\n<p>Dalam proses tarik-menarik Sarawak itulah terjadi tawar-menawar politik yang hasilnya menguntungkan rakyat Sarawak hingga kini.\u00a0 Salah satu kesepakatan yang diperoleh dalam proses itu adalah kewenangan yang cukup besar bagi Sarawak dalam masalah kependudukan. Meskipun menjadi salah satu negara bagian dari Malaysia, setiap warga Malaysia non-Sarawak harus menggunakan paspor dan wajib lapor secara rutin jika mereka tinggal atau bekerja di Sarawak.\u00a0 Dengan demikian rakyat Sarawak mempunyai wewenang dan otonomi yang baik terhadap wilayahnya.\u00a0 Tidak mengherankan jika pada saat ini penduduk Sarawak hanya sekitar 2,2 juta jiwa.\u00a0 Padahal luas wilayah Sarawak adalah 124.450 km<sup>2<\/sup>, atau kurang lebih 37.5% dari luas daratan Malaysia.\u00a0 Dengan wilayah yang luas dan sumberdaya alam yang melimpah maka pada saat ini negeri jiran ini lebih makmur daripada wilayah Kalimantan pada umumnya.\u00a0 Seluruh jalan raya terawat dengan baik dan nyaris tidak pernah terjadi kemacetan.\u00a0 Taman-taman kota tertata rapi dan terpelihara dengan baik.\u00a0 Demikian juga rerumputan yang tumbuh di kiri-kanan jalan, secara rutin dipangkas sehingga tampak rapi dan bersih.\u00a0 Kerapian lingkungan jalan raya bukan hanya terlihat di wilayah kota tetapi juga terdapat di jalan-jalan desa yang jauh dari keramaian.<br \/>\nSarawak tampaknya sudah beranjak dari negeri miskin menuju negeri yang berkecukupan.\u00a0 Ini barangkali bisa dilihat dari program-program pembangunannya.\u00a0 Seluruh anak usia sekolah di Sarawak mendapat kesempatan bersekolah dengan gratis hingga sekolah menengah atas.\u00a0 Bagi lulusan sekolah menengah yang melanjutkan ke perguruan tinggi, pemerintah Sarawak menyediakan pinjaman lunak yang pengembaliannya dilakukan setelah mahasiswa memperoleh pekerjaan dan secara finansial mampu melunasinya (pada era 80-an Indonesia pernah mempunyai program serupa, tetapi tidak berlangsung lama).<\/p>\n<p><strong>Politik, Budaya, dan Ekonomi Sarawak <\/strong><\/p>\n<p>Ketika saya berada di Sarawak, Malaysia sedang menyelenggarakan pemilihan umum.\u00a0 Saya mendapat kesempatan untuk memperhatikan bagaimana masyarakat Sarawak, khususnya para sivitas akademika Unimas yang berinteraksi dengan saya, dengan antusias menyikapi pemilihan umum di negerinya.\u00a0 Beberapa kolega bahkan harus mudik ratusan kilometer demi untuk melaksanakan \u201cundian\u201d, (istilah Malaysia untuk \u201cvote\u201d atau \u201cmencoblos\u201d) di wilayahnya agar kandidat yang dijagokan tidak kehilangan suaranya.\u00a0 Dengan menggunakan sistem parlementer berbasis distrik, seorang kandidat di Sarawak bisa terpilih menjadi anggota parlemen Malaysia cukup dengan meraih 12.000 suara atau bahkan kurang dari itu.\u00a0 Di setiap daerah pemilihan hanya ada dua kandidat yang bersaing memperebutkan kursi parlemen.\u00a0 Satu dari koalisi Barisan Nasional (BN) dan saingannya dari koalisi partai oposisi yang di Malaysia disebut \u201dkoalisi partai pembangkang\u201d.\u00a0 Berbeda dengan di Semenanjung Malaysia di mana tulang-punggung BN adalah UMNO (<em>United Malay National Organisastion<\/em>), kekuatan utama Koalisi BN di Sarawak adalah Partai Pusaka Bumi Putera (di negara bagian Sarawak tidak ada UMNO).\u00a0 Partai ini umumnya beranggotakan etnis melayu dan dayak.\u00a0 Koalisi BN akan memasang kandidatnya yang paling berpeluang untuk menang.\u00a0 Dengan kata lain, BN akan memasang calon dari etnis Melayu pada daerah-daerah kantong Melayu dan sebaliknya akan memasang calon dari etnis Dayak jika menurut perhitungan mereka itu lebih berpeluang untuk menang.\u00a0 Tentu saja, sebagaimana umumnya yang terjadi di medan politik, ada pertimbangan-pertimbangan lain selain faktor etnis.<\/p>\n<p>Dalam pandangan awam saya, tampaknya warna-warna etnis tampak lebih jelas di Sarawak dibandingkan di Indonesia.\u00a0 Pada setiap kota yang merupakan kantong etnis Cina, semua toko dan papan nama selalu menggunakan huruf Cina disertai dengan huruf latin\/Bahasa Malaysia di bawahnya.\u00a0 Demikian juga ketika mereka berkampanye, calon-calon dari etnis Cina menggunakan tulisan Cina dan berpidato dalam Bahasa Cina.\u00a0 Sebagian disertai dengan Bahasa Inggris.\u00a0 Secara kebetulan, ketika saya makan malam bersama kolega saya di Kuching sedang berlangsung kampanye dari partai DAP (<em>Democratic Action Party<\/em>).\u00a0 Partai yang merupakan salah satu tulang punggung kelompok oposisi di Sarawak ini didominasi oleh warga Sarawak etnis Cina.\u00a0 Acara kampanye di gelar di pusat perbelanjaan yang juga merupakan tempat favorit untuk makan malam.\u00a0 Pengunjung, yang umumnya merupakan keluarga, duduk menyantap makanan sesuai dengan pesanan masing-masing sambil sekali-sekali memperhatikan pidato kampanye yang ditayangkan melalui layar lebar.\u00a0 Meskipun masyarakat Sarawak sangat serius ketika harus memberikan suara kepada kandidat yang didukungnya, saya mendapat kesan bahwa mereka menyikapi kampanye dengan biasa-biasa saja.\u00a0 Agak berbeda dengan suasana kampanye terbuka di Indonesia yang lebih bersemangat dan bergemuruh.<\/p>\n<p>Berdasarkan etnisnya, populasi 2,2 juta jiwa penduduk Sarawak terdiri atas sekitar 30% etnis Dayak Iban, 30% Cina, 21% Melayu, serta sisanya gabungan dari berbagai suku dayak.\u00a0 Secara keseluruhan terdapat 27 etnis asli dan 45 bahasa di Sarawak.\u00a0 Pada hampir semua tempat yang saya kunjungi, baik di kota maupun di desa, pada umumnya warga Sarawak bisa berbahasa Inggris cukup baik.\u00a0 Namun demikian, dalam hal bahasa nasional tampaknya orang Sarawak tidak sebaik orang Indonesia.\u00a0 Bahasanya bercampur-campur, dan tidak standar.\u00a0 Dari tayangan TV yang sempat saya lihat di hotel tampak dengan jelas bahwa tidak semua orang berbicara dengan bahasa yang sama.\u00a0 Sebuah acara film seringkali disertai dengan tiga jenis teks terjemahan: bahasa Cina, Malaysia, dan India.\u00a0 Dapat dibayangkan bagaimana baris-baris teks tersebut memenuhi hampir seperempat layar TV yang kita tonton!<\/p>\n<p>Dari berbagai diskusi saya dengan kolega saya di Unimas, saya mendapat kesan bahwa orang Sarawak menganggap orang Indonesia lebih maju dan lebih kreatif dalam berkesenian.\u00a0 Orang Sarawak pada umumnya mengenal dengan baik artis-artis dan penyanyi Indonesia.\u00a0 Banyak lagu-lagu indonesia masa kini juga sangat populer di Sarawak, dari lagunya Peterpan, Ungu, hingga Mulan Jameela.\u00a0 Menurut orang Sarawak, rentak musik Indonesia lebih seronok!\u00a0 Bahkan di salah satu acara festival menyanyi di kampus, salah satu lagu yang mengantarkan pemenangnya adalah \u201dDealova\u201d yang dipopulerkan oleh penyanyi Indonessia Once. Tayangan TV-TV Indonesia, yang bisa ditangkap melalui parabola ilegal, juga sangat disukai warga Sarawak.\u00a0 Menurut pandangan saya, TV Malaysia lebih \u201dkonservatif\u201d dan agak \u201dmembosankan\u201d.\u00a0 Ketika menonton acara TV programa Malaysia, saya sering membayangkan seperti ketika menonton TVRI di era 70-80 an!!<\/p>\n<p><strong>Transportasi dan Pedagang Makanan <\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong>Pada hari pertama saya di Sarawak, saya dijemput dari hotel menuju Kampus Unimas Sarawak di Kota Samarahan yang berjarak sekitar 15 km dari Kuching.\u00a0 Selama dalam perjalanan saya memperhatikan kondisi jalan raya dan mobil-mobil yang lalu lalang.\u00a0 Jalan-jalan yang kami lalui tampak luas, rapi, dan teratur.\u00a0 Seluruh trotoar berfungsi penuh untuk pejalan kaki, tidak satupun terlihat pedagang kaki lima berdagang di trotoar seperti layaknya di kota-kota besar di Indonesia.\u00a0 Juga tidak pernah ada pengamen atau pengemis yang menyapa pengendara mobil di pemberhentian lampu jalan.\u00a0 Hal ini tidaklah membuat saya heran karena Sarawak hanya berpenduduk 2,2 juta jiwa dan Kota Kuching dihuni oleh sekitar 580.000 jiwa.\u00a0 Tekanan penduduk yang tidak terlalu kuat, didukung oleh perencanan dan disiplin yang baik mungkin bisa membuat Kota Kuching terasa nyaman dan tertib.<\/p>\n<p>Yang menarik perhatian saya ketika saya berada di jalan raya Kuching adalah ukuran mobil-mobil berada di jalan.\u00a0 Sebagian besar mobil di jalanan Sarawak berukuran mini dengan mesin 1000 cc atau bahkan 850 cc.\u00a0 Selain itu, sebagian besar mobil di Sarawak adalah buatan Malaysia.\u00a0 Mobil-mobil berukuran kecil seperti minibus \u201dKenari\u201d atau \u201dKelisa\u201d adalah produk lokal Malaysia yang banyak digemari oleh penduduk Sarawak.\u00a0 Tampaknya memiliki mobil kecil \u201dmade in Malaysia\u201d tengah menjadi <em>trend <\/em>positif di Sarawak, mungkin juga di seluruh Malaysia.\u00a0 Saya mendapat informasi bahwa kendaraan dinas pejabat negara di seluruh Malaysia adalah Mobil \u201dPerdana\u201d, salah satu produk unggulan dari Proton, produsen mobil pertama di Malaysia.\u00a0 Konon tidak ada lagi kendaraan dinas Mercedes, bahkan untuk seorang perdana menteri Malaysia!!\u00a0 Kebijakann-kebijakan seperti inilah yang mungkin ikut mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Malaysia!<\/p>\n<p>Menurut perkiraan Prof. Gabriel Tonga, diperkirakan 75-80 % dari keluarga Sarawak memiliki mobil.\u00a0 Inilah salah satu impian dari Dr. Mahatir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang kini telah digantikan oleh Datuk Abdulah Badawi.\u00a0 Salah satu program dari Mahatir Mohammad adalah mewujudkan negara Malaysia yang penduduknya berkecukupan dan setiap keluarga bisa memiliki mobil.\u00a0 Barangkali ini hanyalah salah satu indikator yang digunakan untuk mewujudkan Visi Malaysia 2020.\u00a0 Menurut pengamatan saya, tingkat kepemilikan mobil 75-80% seperti yang dikatakan oleh Prof. Tonga tidaklah berlebihan.\u00a0 Dari kunjungan-kunjungan saya ke pelosok Sarawak saya selalu kendaraan beroda empat terpakir di halaman atau garasi rumah penduduk.\u00a0 Bahkan juga pada rumah-rumah tradisional yang mungkin masih tergolong ke dalam lingkungan hunian penduduk miskin di Sarawak!<\/p>\n<p>Hal lain yang menarik perhatian saya ketika berada di Sarawak adalah situasi di kedai-kedai makan yang hampir selalu penuh dengan pelanggan, baik pada jam sarapan pagi hari, makan siang, ataupun pada jam makan malam.\u00a0 Terkadang saya berpikir jangan-jangan penduduk Sarawak, kecuali yang punya restoran, tidak pernah memasak di rumah masing-masing.\u00a0 Yang juga tidak kalah menarik adalah harga makanan yang relatif murah.\u00a0 Meskipun standar gaji dan penghasilan penduduk Sarawak lebih tinggi daripada penduduk Indonesia, harga-harga makanan di sana relatif sama dengan di Indonesia.\u00a0 Saya mendapat informasi bahwa pemerintah di sana menyubsidi harga-harga bahan pangan sehingga harga tetap murah.<br \/>\nHampir semua kedai makan di Serawak diisi oleh lebih dari satu pedagang.\u00a0 Pemilik kedai biasanya hanya menjual minuman, sementara di bagian lain ada satu atau dua penjual lain yang menyediakan makanan.\u00a0 Biasanya di kedai yang sama terdapat satu makanan halal yang ditandai dengan tulisan arab \u201dBismillahirrahmanirrahim\u201d seta pelayannya yang berjilbab (meskipun sering kali hanya dengan pakaian berlengan pendek dan dengan celana jeans ketat). Setiap tamu yang datang dan duduk harus memesan minuman, apakah itu teh, kopi, tongkat ali (ginseng pasak bumi), jus, atau minuman lainnya.\u00a0 Sistem berdagang seperti ini tampaknya sangat baik dalam hal membagi kesempatan kerja antara pemilik kedai yang menjual minuman -umumnya dari etnis Cina yang secara eknomi lebih kuat- dan penjual makanan.\u00a0 Model ini tampaknya terjadi di semua kota di Sarawak dan mungkin saja bisa mengurangi konflik antaretnis yang memang cukup potensial untuk terjadi.<\/p>\n<p><strong>\u00a0Sumberdaya Alam dan Pertanian<\/strong><\/p>\n<p>Kondisi geografis Sarawak dapat dikelompokkan dalam tiga bagian atau wilayah.\u00a0 Yang pertama adalah wilayah pesisir yang pada umumnya berdataran rendah, bertopografi rata, dan berawa-rawa. Wilayah kedua didominasi perbukitan.\u00a0 Di wilayah inilah sebagian besar kota-kota di Sarawak dibangun.\u00a0 Di wilayah ini pertanian juga relatif lebih berkembang.\u00a0 Wilayah ketiga adalah daerah pegunungan yang berada di bagian perbatasan dengan Indonesia.<\/p>\n<p>Negeri Sarawak dikaruniai hutan tropis yang sangat luas.\u00a0 Namun demikian, seperti halnya yang terjadi di Kalimantan, dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi penebangan besar-besaran terhadap hutan-hutan alam di Sarawak.\u00a0 Laju kerusakan hutan di Sarawak yang diperkirakan mencapai 90% merupakan salah satu yang tertinggi didunia.\u00a0 Laju kerusakan hutan yang tinggi ini antara lain dipicu oleh pesatnya pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI).\u00a0 Tampaknya, sistem kependudukan dan federasi yang diterapkan bisa menahan ekspansi penduduk dari Semenanjung Malaysia tetapi tidak mampu eksploitasi sumberdaya alamnya oleh pemerintah federal.\u00a0 Beberapa akademisi yang saya ajak berdiskusi menyadari bahwa pemerintah federal telah mengeksploitasi sumberdaya alam Sarawak.\u00a0 Namun demikian, mereka juga menyadari bahwa dari sumber itulah mungkin pembangunan gedung-gedung fasilitas umum dan jalan raya Sarawak memperoleh dananya.\u00a0 Mungkin juga karena akibat inilah maka dewasa ini kita sering mendengar penyelendupan ke Malaysia atas kayu-kayu hasil pembalakan liar dari hutan Indonesia sangat marak.<br \/>\nTerlepas dari kondisi hutannya yang telah rusak, saya memperkirakan bahwa sumberdaya alam dan lahan yang tersisa masih cukup untuk mendukung perekonomian penduduk Sarawak yang hanya 2,2 juta jiwa.\u00a0 Dari berbagai tempat yang saya kunjungi dari wilayah Kuching di bagian barat hingga Saratok di Sarawak tengah, masih banyak lahan hutan sekunder yang belum dimanfaatkan secara optimal.\u00a0 Lahan-lahan ini pada umumnya merupakan tanah ulayat yang hanya bisa dimiliki oleh suku-suku lokal.<\/p>\n<p>Sistem pertanahan di Sarawak telah dirancang untuk melindungi kepemilikan lahan oleh penduduk yang telah turun-temurun tinggal di Sarawak.\u00a0 Kaum etnis Cina dan kaum pendatang, misalnya, hanya diperbolehkan membeli dan memiliki lahan yang berada di dalam zona campuran (<em>mixed-zone<\/em>).\u00a0 Lahan yang berada di dalam zona ini memiliki dokumen-dokumen legal dan bisa diperjualbelikan.\u00a0 Sementara itu, penduduk asli Sarawak memiliki zona yang disebut tanah adat bumi putera (atau <em>NCL, Native Customary Land<\/em>)<em> <\/em>yang tidak bisa diperjualbeilkan kepada etnis lain.\u00a0 Kepemilikan lahan ini bisa berpindah tangan melalui transaksi tradisional dan biasanya hanya diperbolehkan di antara keluarga-keluarga yang masih berkerabat.\u00a0 Pada tanah-tanah ulayat inilah, perkebunan kelapa sawit di Sarawak dewasa ini dikembangkan melalui lembaga SALCRA, <em>Sarawak Land Consolidation and Rehabilitation Authority.\u00a0 <\/em>Lembaga milik pemerintah ini dibentuk dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan milik rakyat karena tanpa bantuan pemerintah pada umumnya keluarga warga asli Sarawak tidak memiliki cukup modal untuk menggarap lahannya yang umumnya cukup luas.\u00a0 Uniknya, perkebunan kelapa sawit yang dikelola SALCRA tidak selalu terbentang secara utuh.\u00a0 Di beberapa kebun yang saya lewati, pada hamparan sawit yang luas terdapat beberapa bagian yang ditanami tanaman lain atau dibiarkan bera.\u00a0 Saya mendapat informasi bahwa SALCRA tidak memaksa seluruh pemilik kebun dalam satu hamparan untuk mengkonversi lahannya menjadi kebun kelapa sawit.\u00a0 Akibatnya, lahan kebun tidak bersambung, alias bolong-bolong.\u00a0 Tentu saja kondisi ini menjadi kurang efisien dan menyulitkan pengelolaannya.\u00a0 Namun demikian, inti dari penerapan sistem ini adalah bahwa pemerintah Sarawak melalui SALCRA menghargai kebebasan penduduk pribuminya untuk mengelola tanahnya sesuai dengan kebutuhannya.\u00a0 Dari beberapa wawancara yang saya lakukan saya mengetahui bahwa SALCRA tidak memperoleh keuntungan banyak dari program pembangunan perkebunan sawit di Sarawak.\u00a0 Lembaga ini tampaknya lebih bertujuan untuk membantu penduduk Sarawak memanfaatkan lahan tidurnya agar memberikan penghasilan yang lebih baik.\u00a0 Diperkirakan, setiap hektar lahan penduduk yang dikonversi menjadi kebun kelapa sawit oleh SALCRA akan memberikan <em>dividen<\/em> sekitar RM 2.000 atau sekitar Rp 5.700.000 per tahunnya (<em>dividen <\/em>bervariasi bergantung kepada harga CPO).\u00a0 Mengingat pemilik lahan sama sekali tidak memerlukan biaya tambahan maka pembagian keuntungan tersebut merupakan hasil bersih bagi pemilik lahan.<\/p>\n<p><strong>Pasar Tradisional dan Pos Bersama di Perbatasan <\/strong><\/p>\n<p>Salah satu berita penting yang selama beberapa hari menjadi <em>headline <\/em>di media masa Indonesia sebelum keberangkatan saya ke Sarawak adalah masalah perbatasan dan Askar Wathaniah, pasukan penjaga perbatasan Malaysia.\u00a0 Hal ini saya tanyakan kepada kolega Unimas saya, Prof. Gabriel Tonga.\u00a0 Saya mendapat jawaban bahwa hal tersebut sempat menjadi berita di Sarawak tetapi tidak seramai di Indonesia.\u00a0 Kolega saya tersebut bahkan berjanji akan mengajak saya untuk mengunjungi beberapa titik perbatasan Sarawak- Kalimantan ketika tugas saya yang berkaitan dengan Unimas telah selesai.<br \/>\nSehari menjelang saya kembali ke Indonesia, Prof. Gabriel Tonga menepati janjinya untuk mengajak saya ke Serikin, sebuah kota kecil yang terletak di dekat perbatasan dengan Kalimantan Barat.\u00a0 Di kota kecil ini, Prof. Gabriel menunjukkan sebuah pasar tradisional yang tidak akan ditemukan di tempat lain di Sarawak.\u00a0 Berbeda dengan pasar-pasar lain ada di Kuching atau kota-kota lain di Sarawak, pasar di Serikin ini benar-benar seperti pasar tumpah di Indonesia.\u00a0 Para pedagang menggantung dan memajang dagangannya pada tenda-tenda darurat yang hampir menutup ruas jalan.\u00a0 Barang dagangan yang dijual semuanya berasal dari Indonesia, mulai dari batik Jawa Tengah, peralatan dapur dan rumah tangga, sayur mayur, dan sebagainya.\u00a0 Barang-barang dagangan ini diangkut dari wilayah Indonesia dengan melalui jalan gunung yang hanya bisa dilewati oleh ojek.\u00a0 Tidak mengherankan jika sebagian besar motor yang ada di pasar perbatasan ini mempunyai plat nomor Indonesia.\u00a0 Tampaknya motor-motor ojek ini bebas keluar-masuk wilayah Sarawak kapan saja.\u00a0 Beberapa pengendara motor berplat Indonesia ini bahkan berboncengan tiga orang, suatu tindakan yang pasti akan ditangkap polisi jika terjadi di tempat lain di Sarawak.\u00a0 Suasana di pasar Serikin ini tidak menunjukkan bahwa mereka sedang berada di negara lain.\u00a0 Prof. Gabriel berkali-kali mengatakan kepada saya, \u201dmereka itu saudara kami\u201d.\u00a0 Memang, terdapat beberapa suku Dayak Kalimantan yang berkerabat dekat dengan suku-suku\u00a0 Dayak di Serawak.\u00a0 Mereka mempunyai bahasa dan tradisi yang sama!<\/p>\n<p>Setelah dari Serikin, saya diajak mengunjungi Desa Biawak di Distrik Lundu yang berdekatan dengan Kabupaten Sambas di Kalbar, Indonesia. Di desa perbatasan ini saya berhenti di Pos Penjagaan Bersama RI-Malaysia. \u00a0Ternyata pos bersama ini tidak berada di garis perbatasan, tetapi jauh masuk di wilayah Sarawak.\u00a0 Kami berhenti untuk minum kopi di sebuah kedai di depan pos penjagaan.\u00a0 Kebetulan di kedai tersebut terdapat seorang tentara Indonesia yang sedang santai minum kopi di kedai yang sama.\u00a0 Saya memperkenalkan diri, dan disambut dengan ramah.\u00a0 Saya sempat menanyakan tentang kasus perbatasan dan Askar Wathaniah kepada tentara RI tersebut. \u00a0Dengan tersenyum dia menjawab, \u201cSaya juga tidak tahu Pak, itu berita apa dasarnya.\u00a0 Kami di sini tenang-tenang saja kok!\u201d.\u00a0 Akhirnya pembicaraan saya dengan tentara penjaga perbatasan yang berasal dari Jawa Timur ini beralih ke masalah-masalah lain.\u00a0 Menjelang saya meninggalkan kedai, seorang anak berseragam SMPN VII Sijingan (mungkin salah satu SMP di Sambas) datang dengan membawa keranjang kosong.\u00a0 Tampaknya dia baru saja menjual dagangan sayur-mayurnya di Kampung Biawak, Sarawak.<\/p>\n<p><strong>Wisata dan Keramahan Sarawak<\/strong><\/p>\n<p>Untuk ukuran sebuah ibukota negara bagian yang mungkin setara dengan ibukota provinsi di Indonesia, urusan kepariwisataan di Kuching sudah berkembang cukup baik.\u00a0 Pada musim liburan sekolah, kota Kuching dipenuhi oleh turis yang kebanyakan dari semenanjung Malaysia.\u00a0 Saya juga menjumpai banyak turis-turis asing berkulit putih di kota Kuching dan sekitarnya.\u00a0 Paket-paket wisata mulai dari penjelajahan goa, wisata sungai, arung jeram, hingga kunjungan ke rumah adat dayak menjadi tujuan wisata yang banyak diminati oleh turis.\u00a0 Brosur-brosur tentang paket-paket wisata tersebut dengan mudah dapat diperoleh di lobby hotel, biro travel, dan tempat-tempat umum di Kuching.<\/p>\n<p>Kuching, Ibukota Sarawak, secara harfiah berarti hewan \u201dkucing\u201d, kerabat harimau yang telah menjadi hewan peliharaan di sepanjang peradaban manusia.\u00a0 Simbol dan patung hewan kucing dimanfaatkan secara ekspansif di ibukota negara bagian di Malaysia timur ini.\u00a0 Di bandara internasional Kuching terdapat panorama elektronik berukuran besar yang menggambarkan sekawanan kucing.\u00a0 Di pusat-pusat kota terdapat berbagai patung kucing dengan berbagai model dan ukuran.\u00a0 Di toko-toko souvenir dijual berbagai patung dan pernik-pernik plakat kucing.\u00a0 Bahkan di Kuching juga terdapat Museum Kucing.\u00a0 Saya sempat dibuat penasaran apakah wilayah ibukota Sarawak ini memang merupakan habitat endemik kucing khusus ataukah di masa lalu pernah menjadi sentra kucing di Kalimantan.\u00a0 Ternyata ihwal kucing ini hanyalah bersumber dari legenda yang tidak jelas.\u00a0 Salah satu brosur wisata menceritakan bahwa nama \u201dkucing\u201d berawal ketika serombongan orang Eropa menanyakan nama tempat sambil menunjuk ke suatu lokasi.\u00a0 Secara kebetulan di arah yang sama melintas seekor kucing.\u00a0 Si pemandu, mengira ia ditanya nama hewan yang sedang melintas, langsung menjawab: \u201dkucing\u201d.<\/p>\n<p>Terlepas dari fakta bahwa kota Kuching tidak ada kaitan historis dengan hewan kucing, pemerintah Sarawak tampaknya memanfaatkan dengan baik legenda yang ada.\u00a0 Untuk kepentingan turisme, mereka mempopulerkan ibukota Sarawak dengan sebutan <em>\u201dKuching, the World Capital of Cats\u201d.\u00a0 <\/em>Dampaknya cukup signifikans.\u00a0 Para turis akan merasa belum berkunjung ke Sarawak kalau tidak membawa cendera mata berupa patung kucing, gelas berornamen kucing, atau gantungan kunci bergambar kucing.\u00a0 Mereka secara sadar memanfaatkan \u201dkucing\u201d sebagai salah satu identitas kota untuk lebih menarik wisatawan.<\/p>\n<p>Salah satu tugas dalam kunjungan saya ke Sarawak mengharuskan saya mengikuti program magang mahasiswa Unimas di desa dan harus menginap di rumah tradisional suku Dayak Iban di Wilayah Saratok, kurang lebih 300 km di sebelah timur Kuching.\u00a0 Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam, saya dan kolega saya dari Unimas tiba di Kota Saratok sekitar pukul enam sore.\u00a0 Kami berputar-putar di kota mencari hotel untuk menginap.\u00a0 Karena Saratok adalah kota kecil, tidak banyak pilihan hotel yang tersedia.\u00a0 Akhirnya kami menemukan Hotel Hoover, sebuah hotel kecil yang berada di sebuah kompleks ruko.\u00a0 Tetapi semua toko sudah tutup dan tidak ada tanda-tanda ada petugas hotel di tempat tersebut.\u00a0 Akhirnya kami memutuskan menilpun via nomor yang tertulis pada papan nama hotel tersebut.\u00a0 Sekitar 15 menit kemudian, pemilik hotel datang dan menanyakan kepada kami akan menginap berapa malam.\u00a0 Kami bermaksud menginap tiga malam dan karena sudah cukup lelah, kami memutuskan menginap di hotel tersebut meskipun kondisinya sangat minimalis dan tidak ada satu petugaspun berada di hotel tersebut.\u00a0 Yang membuat saya heran, pemilik langsung menyerahkan kunci kamar tanpa meminta identitas dan uang sewa dari kami.\u00a0 Sepertinya pemilik hotel tidak khawatir kalau kami akan <em>check-out <\/em>tanpa membayar.\u00a0 Kejadian ini membuat saya berpikir bahwa orang-orang Sarawak yang tinggal di pelosok atau kota-kota kecil merasa sangat aman.\u00a0 Hal ini juga terbukti ketika kolega kami menyarankan agar saya meninggalkan tas saya yang berisi komputer di dalam mobil ketika kami harus memarkir mobil di pinggir hutan.\u00a0 Padahal kami masuk satu kilometer ke dalam hutan untuk mengikuti survei mahasiswa selama kurang lebih 3-4 jam.\u00a0 Ternyata barang kami aman-aman saja.\u00a0 Demikian juga selama tiga malam mobil diparkir di komplek ruko-hotel tanpa ada penjaga.\u00a0 Tidak satupun barang dan peralatan mahal yang ada di dalam mobil terganggu.<br \/>\nSaya semakin kagum dengan sistem kekerabatan yang berkembang di Sarawak ketika saya menginap di \u201drumah panjang\u201d suku dayak Iban di Desa Sessang, sekitar 20 km dari kota Saratok.\u00a0 Suku ini dahulu sangat ditakuti oleh suku-suku lain karena tradisi peperangannya yang melegenda. Konon, dalam peperangan tersebut mereka memenggal kepala musuhnya dan dibawa pulang untuk bukti kemenangannya.\u00a0 Inilah yang disebut tradisi \u201d<em>head hunting<\/em>\u201d.\u00a0 Karena alasan keamanan tulah, mereka tinggal secara berkelompok di dalam rumah panjang.\u00a0 Rumah panggung tradisional ini bisa dihuni oleh belasan hingga puluhan keluarga.\u00a0 Setiap keluarga menghuni satu bilik yang ukurannya sekitar 6 x 10 meter.\u00a0 Pada awalnya rumah panjang dimulai dengan beberapa keluarga saja.\u00a0 Kemudian ketika ada kerabat lain ingin bergabung maka mereka dipersilakan membangun di sebelah kanan atau kiri dari rumah yang sudah ada.\u00a0 Pada bagian depan bangunan terdapat teras yang lebarnya sekitar 5 m dan panjangnya membentang dari ujung kiri hingga kanan.\u00a0 Pada sore hari, teras ini menjadi media bermain anak-anak maupun tempat merumpi warga rumah panjang.<\/p>\n<p>Aroma kekerabatan Sarawak dapat saya rasakan lagi ketika saya diajak menginap di desa tempat kelahiran kolega saya yang juga dosen Unimas.\u00a0 Rumah kolega saya ini berada di pinggir hutan dan berjarak cukup jauh dari rumah-rumah yang lain.\u00a0 Karena jaraknya cukup jauh dari kampus, rumah ini hanya dikunjungi pada setiap akhir pekan.\u00a0 Rumah yang cukup mewah dengan perabotan dan peralatan elektronik lengkap ini setiap hari dalam keadaan kosong, dan belum pernah dibobol maling.\u00a0 Pada halaman depan rumah, terdapat kolam ikan berukuran kurang lebih 15 x 15 m.\u00a0 Yang unik dari kolam ini, pemilik kolam menyediakan pakan ikan dan buku catatan. Setiap hari, para tetangga yang melewati rumahnya memeriksa buku catatan tersebut untuk memastikan apakah sudah ada seseorang yang memberi makan ikan.\u00a0 Jika ikan belum diberi makan, maka tetangga tersebut akan menebar pelet pakan ikan sesuai dengan takaran yang ada.\u00a0 Dan kemudian menuliskan nama, tanggal, dan jam pemberian pakan yang ia lakukan.\u00a0 Ketika kelak kolam dipanen maka pemilik ikan akan membagi hasilnya kepada para tetangganya yang namanya terekam di dalam buku catatan di pingir kolam tersebut.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Rumah-panjang21.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-264\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Rumah-panjang21-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Rumah-panjang21-300x225.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2012\/02\/Rumah-panjang21.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>Keamanan, keramahan, dan keguyuban bertetangga yang saya lihat di Sarawak membekas di dalam benak saya hingga saya kembali ke tanah air.\u00a0 Mungkin saja, di suatu kota di pelosok Indonesia ini masih ada tempat yang kita bisa merasa aman untuk meninggalkan barang-barang berharga kita.\u00a0 Mungkin saja masih ada pemilik restoran yang mau berbagi tempatnya untuk memberi kesempatan berdagang kepada tetangganya.\u00a0 Mungkin saja masih ada komunitas yang dengan semangat kekeluargaan ikut memperhatikan kolam ikan milik tetangganya!\u00a0 Semoga!!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada bulan Maret 2008 saya mendapat tugas dari Universitas Lampung untuk mengunjungi dan mempelajari sistem akademik Program Pascasarjana Universitas Malaysia (Unimas) di Sarawak, Malaysia Timur. Ketika beberapa kolega menanyakan ihwal keberangkatan saya ke salah satu negara bagian Malaysia ini, secara bercanda saya mengatakan bahwa saya akan menjadi TKI di Kalimantan Utara.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-258","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bunga-rampai"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=258"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/258\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=258"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=258"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=258"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}