{"id":1027,"date":"2024-11-25T21:01:24","date_gmt":"2024-11-25T14:01:24","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/?p=1027"},"modified":"2024-11-25T21:01:24","modified_gmt":"2024-11-25T14:01:24","slug":"meghormati-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/2024\/11\/25\/meghormati-guru\/","title":{"rendered":"MEGHORMATI GURU"},"content":{"rendered":"<p>Alkisah, Imam Syafii tiba-tiba mencium tangan seorang lelaki tua hingga membuat heran yang melihatnya. Ketika ditanya siapakah lelaki itu, Imam Syafii menjawab: \u201cIa adalah salah seorang guruku. Suatu hari aku bertanya kepada beliau, bagaimana mengetahui bahwa seekor anjing telah dewasa. Dari beliau saya menjadi tahu bahwa anjing dewasa mengangkat sebelah kakinya ketika hendak kencing\u201d.<\/p>\n<p>Meskipun pengetahuan yang diperoleh terkesan tidak seberapa, Imam Syafii tidak pernah melupakan gurunya, apalagi meremehkan jasa sang guru. Imam Syafii memperlakukan guru tersebut dengan mulia, sama seperti ia memperlakukan guru-gurunya yang lain.<\/p>\n<p>Sikap yang tak kalah mengagumkan juga ditunjukkan oleh Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Beliau pernah berkata: \u201cAku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu huruf. Aku pasrah kepadanya, entah aku mau dijual, dimerdekakan, atau tetap menjadi seorang hamba\u201d.<\/p>\n<p>Dalam kisah Mahabarata juga terdapat kisah penghormatan yang luar biasa kepada guru. Bambang Ekalaya adalah seorang pemuda bukan keturunan bangsawan Barata sehingga tidak dapat berguru olah kanuragan kepada Maharesi Durna. Tetapi Ekalaya tak patah semangat. Dengan niat yang sangat kuat, Ekalaya berlatih sendiri dan menganggap Resi Durna sebagai gurunya. Dengan bersembunyi di balik pepohonan di pinggir arena berlatih, Ekalaya memperhatikan dengan seksama apa yang diajarkan Durna kepada murid-muridnya. Ekalaya bahkan membuat patung Mahaguru Durna dan setiap hari dia berlutut dan memberi hormat kepada patung tersebut sebelum berlatih kanuragan dan memanah. Alhasil, setelah sekian lama berguru secara mandiri, Ekalaya mampu mengimbangi kemampuan memanah Arjuna, murid darah Barata paling hebat dan kesayangan Mahaguru Durna.<\/p>\n<p>Prestasi Ekalaya tersebut mengagetkan semua orang, termasuk Durna. Mahaguru sakti ini akhirnya bertanya: \u201cWahai Ekalaya, siapakah guru yang melatihmu hingga demikian hebat? Dengan penuh hormat, Ekalaya menjawabnya seraya mencium kaki Durna: \u201cGuru hamba adalah paduka, Mahaguru Durna. Ampunilah hamba yang telah berani berguru tanpa ijin\u201d. Ekalaya pun menceriterakan bagaimana ia berlatih setiap hari di hadapan patung Durna.<\/p>\n<p>Karena tidak ingin ada ksatria yang lebih hebat dari keturunan Barata, Durna bersiasat untuk mengakhiri persaingan. Durna lalu memperbolehkan Ekalaya menjadi siswanya dengan satu syarat, Ekalaya harus melepas cincin dan menyerahkan kepada Durna. Ia mengetahui bahwa cincin itu adalah cincin kesaktian yang membuat Ekalaya mampu menyaingi Arjuna dalam lomba memanah. Singkat cerita, dengan berbagai dilemanya, Ekalaya dengan ikhlas dan penuh hormat menyerahkan cincin kesaktianya kepada Maharesi Durna. Ekalaya bahkan rela memotong jari manisnya agar dapat melepas cincin kesayangannya. Tak lama setelah lepasnya cincin dan putusnya jari manis, suksma Ekalaya tersenyum menuju nirwana di hadapan guru yang dicintainya.<\/p>\n<p>TANCEP KAYON.<\/p>\n<p>HS, Gunter, Bandar Lampung.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alkisah, Imam Syafii tiba-tiba mencium tangan seorang lelaki tua hingga membuat heran yang melihatnya. Ketika ditanya siapakah lelaki itu, Imam Syafii menjawab: \u201cIa adalah salah seorang guruku. Suatu hari aku bertanya kepada beliau, bagaimana mengetahui bahwa seekor anjing telah dewasa. Dari beliau saya menjadi tahu bahwa anjing dewasa mengangkat sebelah kakinya ketika hendak kencing\u201d. Meskipun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-1027","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bunga-rampai"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1027"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1028,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027\/revisions\/1028"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/hamim\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}