{"id":398,"date":"2011-03-15T08:07:03","date_gmt":"2011-03-15T08:07:03","guid":{"rendered":"http:\/\/gigihfordanama.wordpress.com\/?p=398"},"modified":"2012-08-08T00:12:37","modified_gmt":"2012-08-08T00:12:37","slug":"makna-muhasabah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/2011\/03\/15\/makna-muhasabah\/","title":{"rendered":"Makna Muhasabah"},"content":{"rendered":"<p>Diambil dari<a href=\"http:\/\/www.dakwatuna.com\/2007\/makna-muhasabah\/\"> http:\/\/www.dakwatuna.com\/2007\/makna-muhasabah\/<\/a><\/p>\n<p>Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari tulisan ini, amiin,<\/p>\n<p><em>Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau  berkata, \u2018Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya  sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang  yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta  berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata,  \u2018Hadits ini adalah hadits hasan\u2019)<\/em><\/p>\n<p><strong>Gambaran Umum Hadits<\/strong><\/p>\n<p>Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam  menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan  rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu  menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut,  seseorang tentunya harus memiliki visi (<em>ghayah<\/em>), perencanaan (<em>ahdaf<\/em>), strategi (<em>takhtith<\/em>), pelaksanaan (<em>tatbiq<\/em>) dan evaluasi (<em>muhasabah<\/em>).  Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah  saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan  evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa  nafsu dan banyak angan.<\/p>\n<p><strong>Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan <\/strong><\/p>\n<p>Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, \u2018Orang yang pandai  (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan  setelah kematiannya.\u2019 Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan  sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang  membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga  kehidupan setelah kematian.<\/p>\n<p>Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas,  sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari  itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya  yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur  keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa  adalah yang \u2018rela\u2019 mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang  lebih mulia, \u2018kebahagian kehidupan ukhrawi.\u2019<\/p>\n<p>Dalam Al-Qur\u2019an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya  mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59):  18\u201319.<!--more--><\/p>\n<p>Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh  Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu,  Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu <em>action after evaluation<\/em>.  Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini  diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas  dengan \u2019dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.\u2019 Potongan hadits  yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah  penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti  apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.<\/p>\n<p>Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya  dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai  senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan  jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut  dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan  kepribadiannya sendiri.<\/p>\n<p>Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw,  dengan \u2018orang yang lemah\u2019, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang  mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak  memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih  memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki  banyak angan-angan dan khayalan, \u2019berangan-angan terhadap Allah.\u2019  Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam  Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan  dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa  nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu  berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.<\/p>\n<p><strong>Urgensi Muhasabah <\/strong><\/p>\n<p>Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan  ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai  urgensi dari muhasabah.<\/p>\n<p>1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:<\/p>\n<p>\u2018Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan  berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).  Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang  yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.<\/p>\n<p>Sebagai sahabat yang dikenal \u2018kritis\u2019 dan visioner, Umar memahami  benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di  atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan  meringankan hisabnya di <em>yaumul akhir<\/em> kelak.  Umar paham bahwa  setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab  diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.<\/p>\n<p>2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:<\/p>\n<p>\u2018Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya  sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya\u2019.<\/p>\n<p>Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau  wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah,  sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak  dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri.  Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang  yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa,  pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.<\/p>\n<p>3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada  hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi  sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.  Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur\u2019an: \u201cDan tiap-tiap mereka akan  datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.\u201d [QS.  Maryam (19): 95, Al-Anbiya\u2019 (21): 1].<\/p>\n<p><strong>Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi <\/strong><\/p>\n<p>Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.<\/p>\n<p>1.Aspek Ibadah<\/p>\n<p>Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah.  Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi  ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]<\/p>\n<p>2. Aspek Pekerjaan &amp; Perolehan Rizki<\/p>\n<p>Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan  dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian  menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan  pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits,  Rasulullah saw. bersabda:<\/p>\n<p>Dari Ibnu Mas\u2019ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda,  \u2018Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia  ditanya tentang  5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa  mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan  ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.\u2019 (HR.  Turmudzi)<\/p>\n<p>3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman<\/p>\n<p>Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek  kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan  sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting,  sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:<\/p>\n<p>Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, \u2018Tahukah kalian  siapakah orang yang bangkrut itu?\u2019 Sahabat menjawab, \u2018Orang yang  bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak  memiliki perhiasan.\u2019 Rasulullah saw. bersabda, \u2018Orang yang bangkrut  dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala)  shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa)  menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi)  orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan  dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum  tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan  pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)<\/p>\n<p>Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana  digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat  dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan  dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait  dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela,  menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb.  Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan  karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut,  maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada  dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan  dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na\u2019udzubillah min dzalik.<\/p>\n<p>4. Aspek Dakwah<\/p>\n<p>Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena  menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga  substansi dari da\u2019wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa,  akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah,  mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat  dsb.<\/p>\n<p>Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek  dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain  baik dalam skala fardi maupun jama\u2019i, merasakan manisnya dan manfaat  dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah  \u2018jamaah\u2019 dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu  dakwah itu sendiri.<\/p>\n<p>Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi  lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan  kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah \u2018ammah, evaluasi dakwah  dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?<br \/>\nPada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya  menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang  jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah \u2013 mudahan ayat ini  menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan:  Katakanlah: \u201cInilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang  mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha  Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik\u201d. [QS. Yusuf  (12): 108] <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Diambil dari http:\/\/www.dakwatuna.com\/2007\/makna-muhasabah\/ Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari tulisan ini, amiin, Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, \u2018Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. &hellip; <a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/2011\/03\/15\/makna-muhasabah\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Makna Muhasabah&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1348,11],"tags":[680],"class_list":["post-398","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kiat-sukses-menjadi-seorang-network-engineer-2","category-world-of-religy","tag-muhasabah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/gigih\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}