{"id":350,"date":"2025-04-04T10:07:11","date_gmt":"2025-04-04T03:07:11","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/?p=350"},"modified":"2025-04-04T10:30:14","modified_gmt":"2025-04-04T03:30:14","slug":"ucapan-terima-kasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/2025\/04\/04\/ucapan-terima-kasih\/","title":{"rendered":"Ucapan Terima Kasih"},"content":{"rendered":"<p><em><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-282\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-content\/uploads\/sites\/36\/2025\/03\/Screenshot-2025-03-07-at-15.15.46-199x300.png\" alt=\"\" width=\"199\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-content\/uploads\/sites\/36\/2025\/03\/Screenshot-2025-03-07-at-15.15.46-199x300.png 199w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-content\/uploads\/sites\/36\/2025\/03\/Screenshot-2025-03-07-at-15.15.46-678x1024.png 678w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-content\/uploads\/sites\/36\/2025\/03\/Screenshot-2025-03-07-at-15.15.46-139x210.png 139w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-content\/uploads\/sites\/36\/2025\/03\/Screenshot-2025-03-07-at-15.15.46.png 708w\" sizes=\"(max-width: 199px) 100vw, 199px\" \/>Teks ini merupakan draf ucapan terima kasih yang awalnya saya susun untuk dimasukkan dalam buku saya. Namun, karena pertimbangan tertentu dari pihak penerbit serta demi menjaga fokus terhadap substansi utama buku, bagian ini akhirnya tidak dimasukkan dalam naskah final. Meskipun demikian, saya tetap merasa penting untuk mengungkapkan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membagikan draf ucapan terima kasih ini melalui blog pribadi saya, agar tetap dapat menyampaikan penghargaan kepada mereka yang telah memberikan dukungan dan inspirasi dalam perjalanan intelektual saya.<\/em><\/p>\n<p><em>Novelty <\/em>seakan menjadi kata sakti yang sering didengar para akademisi belakangan ini. Bahwa dalam setiap studi, khususnya riset, harus menawarkan kebaruan dari studi untuk mengisi gap dari studi-studi yang pernah ada sebelumnya. Dalam konteks tersebut, lahirnya buku ini merupakan ikhtiar untuk itu. Ada ratusan buku dan ribuan jurnal yang menjelaskan tentang birokrasi, baik yang bersifat pengantar maupun yang <em>advance<\/em>, yang konseptual maupun empiris. Namun, karya yang menjelaskan konsep birokrasi ini secara kritis dari perspektif kiri masih sangat minor, khususnya untuk buku berbahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Buku kecil ini merupakan manifestasi kegelisahan yang selalu saya rasakan sejak mulai belajar tentang birokrasi secara formal di bangku kuliah. Pada dasarnya, sejak awal, birokrasi memang telah menjadi entitas yang menarik perhatian, dikritik, dan direformasi Tapi, mengapa diskursus teori-teori kritis belum banyak masuk dalam studi birokrasi di Indonesia? Sehingga penjelasan yang ada selama ini kerap terjebak pada tautologi cara yang irrelevan, bahkan kecendrungan menerima begitu saja kondisi birokrasi sebagai fakta yang tidak bisa diselesaikan.<\/p>\n<p>Di dunia yang ditandai dengan jaringan birokrasi yang kompleks, penting untuk menyelidiki ideologi dan paradigma yang membentuk lembaga-lembaga ini. Memahami ideologi yang mendasarinya membantu dalam memahami mengapa aturan dan regulasi tertentu ada, bagaimana aturan dan regulasi tersebut ditegakkan, dan apa dampaknya terhadap publik. Dengan memeriksa ihwal ini, kita dapat lebih memahami motivasi dan implikasi dari tindakan dan kebijakan birokrasi.<\/p>\n<p>Buku ini berikhtiar untuk menyelami kompleksitas struktur birokrasi melalui lensa pemikiran alternatif. Saya mencoba memberanikan diri untuk menantang cara pandang dan praktik birokrasi yang konvensional, dan menawarkan perspektif alternatif, dalam hal ini persepektif dari pemikir-pemikir kiri, tentang peran birokrasi dalam masyarakat. Melalui bantuan lensa analisis tokoh-tokoh kiri, saya menavigasi relasi antara kekuasaan, sampai ideologi, menjelaskan cara-cara di mana sistem birokrasi merefleksikan dan kerap melanggengkan ketidaksetaraan. Oleh karenanya, buku ini mencoba menyingkap mekanisme tersembunyi yang membentuk pengalaman birokrasi kita sehari-hari.<\/p>\n<p>Di saat legitimasi institusi birokrasi semakin dipertanyakan, semoga lahirnya buku ini bisa menjadi pengingat yang tepat waktu akan kebutuhan keterlibatan kritis untuk agenda-agenda reformasi di masa depan. Buku ini merupakan ajakan untuk bertindak bagi semua pihak yang berkomitmen untuk membangun birokrasi yang melayani kepentingan publik, bukan segelintir elite, juga birokrasi yang memberdayakan dan menyemai emansipasi pekerja-pekerja yang berada di dalamnya.<\/p>\n<p>Karya ini hadir di hadapan anda bukan hasil dari kerja soliter. Banyak pihak yang telah membantu hingga buku ini tuntas. Ucapan terima kasih saya haturkan kepada semua kolega dosen dan staf di Jurusan Administrasi Negara, Universitas Lampung (Unila) yang telah menciptakan ruang yang hangat sebagai keluarga. Dukungan akademis dan administratif mereka sangat berperan dalam penyelesaian pekerjaan ini.<\/p>\n<p>Kepada semua anggota keluarga besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, yang hampir tiap hari group whatsappnya selalu ramai dan dinamis. Kemudian, kepada kawan-kawan dosen muda FISIP Unila, Junadi, Guntur, Prasetya, Azis, Vito, Yuda, Purwanto, Bendi, Indra, Gita, Vina dan kawan-kawan lain yang tidak bisa disebut satu-persatu.<\/p>\n<p>Saya berhutang budi kepada mentor penelitian saya, Arizka Warganegara dan Simon Sumanjaya Hutagalung, komitmen sebagai mitra dialog mereka sangat berharga. Ucapakan terima kasih kepada Fuad Abdulgani, kawan ngopi dan diskusi di mes dosen, termasuk pembahasan draf awal buku ini.\u00a0 Apresiasi juga saya sampaikan kepada kawan-kawan penggerak koperasi di <em>Indonesian Consortium for Cooperatives Innovations <\/em>(ICCI), Firdaus Putra, Wildansah, Novita Puspasati, Anis Saadah, Ikhwan.<\/p>\n<p>Selain itu, ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada kawan-kawan seperjuangan Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), antara lain Robertus Robert, Bivitri Susanti, Herlambang P. Wiratraman, dan Satria Unggul Wicaksana yang telah menjadi katalisator momen perjuangan kebebasan akademik di Lampung.<\/p>\n<p>Terima kasih juga untuk kawan-kawan Serikat Pekerja Kampus (SPK) yang telah berjuang bersama untuk mewujudkan kesejahteraan dosen dan pekerja kampus di Indonesia. Dhia Al-Uyun, Hariati Sinaga, para pengurus serta anggota SPK lainnya.<\/p>\n<p>Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengurus pusat <em>Indonesian Association for Public Administration<\/em> (IAPA), khususnya Prof. Agus Pramusinto, Dr. Bevaola Kusumasari, Dr. Enjat Munajat, Oscar Radyan Dana, Ph.D, Dr. M.R Khairul Muluk dan Dr. Rd. Ahmad Buchari.<\/p>\n<p>Para guru dari Purwokerto\u2014Prof. Dwiyanto Indiahono, Prof. Slamet Rosyadi, Prof. Paulus Setyoko Israwan, Dr. Tobirin, Dr. Arizal Mutahir, dan Dr. Tyas Retno Wulan\u2014dikenang dengan rasa syukur karena telah memperkaya perjalanan intelektual saya selama menjadi mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Universitas Jenderal Soedirman.<\/p>\n<p>Ungkapan apresiasi juga disampaikan kepada para sahabat Sunter <em>Connection<\/em> antara lain Hendra Wijayanto, Retnayu Prasetyanti, Firman, Ardli Johan Kusuma, Anwar Ilmar, Restu Rachmawati, Dina Fadiyah, Komang Jaka Ferdinan, Maya Padmi, Chairil, Usisah, Iqbal, Ummi Zakiyah, Vidya Kusumawardani, Indrawati, Dewi Maria, Yeby Ma&#8217;asan Mayrudin, Danang Trijayanto,\u00a0 Ode dan Agung Yudhistira Nugroho.<\/p>\n<p>Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada teman-teman Forum Demokrasi antara lain Hendry Sihaloho (Konsentris), Derry Nugraha (Konsentris), Dian Wahyu Kusuma (AJI Bandarlampung), Sumaindra (LBH Lampung), Bowo (LBH Lampung), Irfan Musarin (Walhi Lampung), Febrilia Ekawati (YKWS) dan rekan-rekan masyarakat sipil lainnya di Lampung. Pengakuan juga diberikan kepada kawan-kawan Pojok Fisip, yang telah menjadi <em>melting pot<\/em> lintas studi setiap sesi diskusi senja.<\/p>\n<p>Secara khusus, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Martin Suryajaya, Dede Mulyanto, Robertus Robert, dan Hizkia Yossi Polimpung atas dukungan mereka yang berarti untuk penerbitan buku ini. Pengaruh ide-ide mereka cukup penting sepanjang perjalanan akademis saya sejak studi sarjana.<\/p>\n<p>Saya juga ingin berterima kasih kepada Penerbit Indipenden (PIN) selama proses review dan penerbitan buku ini, terutama Arif Novianto, atas kesediaannya untuk menerbtikan buku ini. Kepercayaan terhadap penerbitan buku ini menjadi inspirasi bagi kerja-kerja pengetahuan saya lebih lanjut.<\/p>\n<p>Akhir kata, rasa terima kasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada keluarga, terutama istri saya, Fetty Wiyani, yang selalu memberikan dukungan dan semangat setiap harinya. Rasa cinta dan pengertian yang luar biasa mengobarkan semangat selama proses penulisan buku. Selain ikhtiar dalam kontribusi ilmiah, buku ini merupakan manifestasi janji seorang suami kepada istri. Kepadanya, buku ini saya dedikasikan<\/p>\n<p>Meskipun banyak orang telah berkontribusi dalam perjalanan lahirnya buku ini, keterbatasan ruang menghalangi saya untuk mengucapkannya satu per satu. Saya hanya bisa mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus kepada mereka. Penyelesaian buku ini merupakan bentuk apresiasi saya, meskipun segala kesalahan yang terdapat di dalamnya tetap menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis.<\/p>\n<p>Bandar Lampung, 31 Juli 2024<\/p>\n<p>Penulis<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teks ini merupakan draf ucapan terima kasih yang awalnya saya susun untuk dimasukkan dalam buku saya. Namun, karena pertimbangan tertentu dari pihak penerbit serta demi menjaga fokus terhadap substansi utama buku, bagian ini akhirnya tidak dimasukkan dalam naskah final. Meskipun demikian, saya tetap merasa penting untuk mengungkapkan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membagikan draf ucapan terima kasih ini melalui blog pribadi saya, agar tetap dapat &hellip; <a class=\"readmore\" href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/2025\/04\/04\/ucapan-terima-kasih\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,1],"tags":[20,27,93],"class_list":["post-350","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini","category-uncategorized","tag-birokrasi","tag-buku","tag-kiri"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":353,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350\/revisions\/353"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}