{"id":125,"date":"2023-10-04T21:22:40","date_gmt":"2023-10-04T14:22:40","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/?p=125"},"modified":"2023-10-04T21:30:47","modified_gmt":"2023-10-04T14:30:47","slug":"membaca-materialisme-historis-melalui-rocye","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/2023\/10\/04\/membaca-materialisme-historis-melalui-rocye\/","title":{"rendered":"Membaca Materialisme Historis Melalui Rocye"},"content":{"rendered":"<div style=\"width: 337px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/m.media-amazon.com\/images\/I\/61sC3qsezUL._SL1360_.jpg\" width=\"327\" height=\"491\" \/><p class=\"wp-caption-text\">Classical Social Theory and Modern Society: Marx, Durkheim, Weber | Amazon<\/p><\/div>\n<p>Oleh: Dodi Faedlulloh<\/p>\n<p>Apapun yang terjadi saat ini, kita bisa menyebut Revolusi Industri 4.0, Era Distrupsi, dan sebutan lain yang merepresentasikan situasi kontemporer tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan apa yang terjadi sebelumnya. Karena pada dasarnya kenyataan selalu bersifat historis. Maksudnya apa terjadi dalam setiap perubahan dalam kehidupan sosial pasti selalu ada suatu prasyarat yang melatarbelakangi. Ada intervensi tangan manusia, sejarah tidak tiba-tiba hadir begitu saja. Dalam hal ini, menarik untuk membaca ulang konsepsi materalisme historis Marx yang direkonstruksi oleh Royce (2015) dalam bukunya <em>Classical Theory and Modern Society.<\/em><\/p>\n<p>Royce memberikan penjelasan tentang materialisme historis dengan porsi yang cukup lengkap serta dijelaskan pada awal-awal pembahasan (<em>overview<\/em>) tentang pemikiran Karl Marx (1818-1883). Tentu bukan tanpa alasan Royce menjelaskan pada awal-awal pembahasan, karena materialisme historis merupakan fondasi pemikiran Marx. Materialisme historis merupakan ajaran internal dalam pemikiran Marx, walaupun Marx tidak pernah menggunakan terma tersebut secara sistematis (Suryajaya, 2012).<\/p>\n<p>Pandangan utama Marx adalah mencoba membongkar kondisi masyarakat tertentu, yakni masyarakat di bawah kapitalisme. Bagi Marx, seperti yang diulas Royce, memiliki premis bahwa hal yang bersifat material adalah yang utama. \u00a0Untuk mengenal kondisi masyarakat harus melihat bagaimana masyarakat menggorganisir diri dalam berproduksi atau yang Marx sebut sebagai corak produksi <em>(mode of production).<\/em> Konsep dari corak produksi ini menempati tempat yang sentral dalam teori Marx. <em>\u00a0<\/em>Ia adalah dasar dari semua kehidupan sosial dan semua sejarah yang ada.<\/p>\n<p>Argumentasi penting mengapa Marx menempatkan corak produksi ini sebagai titik awal adalah posisi manusia dalam mengekspresikan diri melalui kerja serta melalui interaksi kolektif manusia dengan alam. Interaksi tersebut yang membuat manusia berpikir untuk menghasilkan sarana untuk bisa bertahan dan melanjutkan hidup. Ciri khas masyarakat dalam kehidupan sosial adalah pengaturan ekonominya dalam memenuhi kebutuhan diri. Bila tatanan ekonominya berubah, maka perkembangan masyarakat pun bisa berubah.<\/p>\n<p>Melalui analisis materialis ini, Marx mampu menyuguhkan eksplansi yang komprehensif tentang sejarah perkembangan manusia. Sejarah perkembangan masyarakat dari mulai epos perbudakan, feodalisme dan sampai kapitalisme adalah tentang soal corak produksi.<\/p>\n<p>Ada ciri spesifik dalam corak produksi yang saling berkelindan satu sama lain, yaitu adanya kekuatan produksi dan hubungan produksi. Kekuatan produksi terdiri dari 1) alat produksi seperti tanah, pealatan, mesin dan bahan baku serta 2) tenaga kerja yakni produktivitas yang bervariasi sesuai dengan keterampilan, keahlian dan pengetahuan teknis pekerja, sedangkan proses produksi merupakan kerangka dan relasi sosial di mana aktivitas organisir ekonomi berlangsung. Kepemilikan dari alat produksi dan kendali atas tenaga kerja menjadi kerangka sosial yang bisa dijadikan dasar dalam melihat kondisi masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, Marx mengenalkan teori tentang kelas. Ada masyarakat yang memiliki alat produksi dan memiliki kendali atas tenaga kerja, ada sebagian besar masyarakat yang hanya memiliki tenaga kerja saja. Ini lah dua kelas dominan yang saling berkonfrontasi dalam kapitalisme: kelas kapitalis dan kelas proletar. Dua kelas tersebut memiliki kontradiksi dalam kepentingan yang tidak terdamaikan.<\/p>\n<p>Para kapitalis hidup melalui nilai lebih yang diambil dari tenaga kerja proletar. Kondisi ini menyebabkan antogonisme kelas yang mendominasi dengan yang didominasi. Antogonisme kelas ini lah yang berlangsung sejak lama dalam setiap perubahan sejarah yang terjadi dalam perkembangan masyarakat di dunia. Kerangka sosial dalam setiap sistem akan berbeda, misal kerangka sosial dalam sistem perbudakan akan berbeda dengan sistem feodalisme, atau buruh dalam kapitalisme berbeda dengan budak dalam feodalisme. Namun terlepas dari perbedaan tersebut ada subtansi yang sama, yakni adaya eksploitasi.<\/p>\n<p>Eksplanasi lain dalam diskursus Marx yang diajabarkan Royce adalah hubungan substruktur-superstruktur. Bagi Marx ada struktur tertentu yang menjadi fondasi nyata dalam masyarakat. Tiada lain struktur tersebut adalah struktur ekonomi. Ekonomilah hal yang material dalam kehidupan manusia. Ekonomi adalah basis struktur yang dapat mempengaruhi struktur atas seperti politik, hukum, budaya sampai kepercayaan masyarakat. Dalam perspektif materialis Marx ini mengingatkan kita ada hal yang tersembunyi dalam penampilan permukaan kehidupan keseharian manusia. Dalam pandangan ini, ide adalah permukaan, ide adalah produk sosial, oleh karenanya ia tidak bisa berdiri sendiri. Selalu ada jejak material dalam ide yang berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, banyak pemikir Marxis yang menajamkan hal ini dengan cara untuk melakukan perubahan secara besar-besaran yaitu dengan langkah merubah struktur ekonominya.<\/p>\n<p>Namun dalam penjelasan Royce hubungan substruktur-superstruktur tidak bersifat deterministik. Marx tidak mengusulkan bahwa ekonomi dapat menjelaskan segalanya. Namun kekuatan ekonomi lebih berat daripada kekuatan non-ekonomi. Oleh karena itu, manusia harus mampu memahamai karakteristik dan cara kerja masyarakat dan komplekstitas hubungan sosial, praktik serta institusi yang membentuk corak produksi masyarakat.<\/p>\n<p>Melalui materialisme historis Marx, membentangkan realitas bahwa sejarah kemanusiaan bukanlah tentang orang-orang hebat atau ide hebat, atau terbukanya kesadaran manusia. Sebaliknya, fokus dari semua sejarah adalah kehidupan ekonomi: industri dan pertukaran, kepemilikan properti dan kekuatan produktif, perdagangan dan konsumsi, pembagian kerja dan tentunya perjuangan kelas.<\/p>\n<p>Kesejarahan merupakan tema penting dalam pemikiran Marx. Melalui materialisme histroris, Marx meramalkan bahwa kapitalisme sebagai tahap perkembangan masyarakat akan runtuh juga. Keruntuhan tersebut melalui perjuangan kelas mayoritas yang didominasi melawan kelas yang mendominasi. Perjuangan kelas ini dilalui melalui tahapan penghancuran struktur ekonomi lama, dalam hal ini kapitalisme, dan menggantinya dengan corak produksi yang baru yang cocok untuk pertumbuhan dan keberlanjutan kekuatan produksi. Dengan demikian, sejarah manusia didorong oleh akumulasi kekuatan-kekuaran produktif, yakni bagaimana suatu corak produksi itu bisa berkembang, matang, mandek, dan akhirnya memberikan jalan untuk transformasi cora produksi yang baru (hal 29).<\/p>\n<p>Pemikir Marxis Indonesia, Nyoto (1962) menjelaskan bahwa materialisme historis merupakan penerapan dari materialisme (dialetiktis) kepada kenyataan yang menyejarah, maka materialisme historis dapat dipahami sebagai gugus pemahaman tentang sejarah sebagai hal yang tersusun oleh determinasi resorokal antar subjek dan antara subjek dengan materi objektif. Dengan kata lain, sejarah adalah efek dari perjuangan kelas (Suryaja, 2012).<\/p>\n<p>Hal penting lain dari materialisme adalah bagaimana melakukan praktik yang materialis. Dalam <em>German Idelogy<\/em>, Marx menjelaskan bahwa perubahan atau revolusi hanya akan tercipta bila manusia tidak hanya mengubah kesadaran atau menghancurkan ilusi tetapi mengubah dunia nyata itu sendiri.<\/p>\n<p>Salah satu kritiknya adalah soal agama yang dinilai dalam beberapa konteks justru menjadi ilusi kesadaran masyarakat. Agama menjadi candu bagi manusia yang dikalahkan oleh keadaan. Ketertundukan terhadap agama tanpa kesadaran kritis menjadikan manusia tidak merdeka. Namun kritik Marx terhadap agama tidak menjadikannya secara total bahwa Marx anti agama. Konteks agama adalah candu adalah kegelisahan materialistik dari Marx dalam melihat kenyataan kaum elit penguasa yang seringkali menggunakan agama untuk memobilasai masyarakat dalam pemenuhuan kepentingan elit penguasa. Dalam konteks kontemporer pun ternyata masih sama. Agama hari ini seringkali digunakan sebagai alat untuk memenuhi ambisi kepentingan elite penguasa. Mereka menggunakan agama untuk menundukan masyarakat agar mereka ikut atas apa yang dikehendaki elit. Ambisi kuasa dibungkus menggunakan agama agar banyak umat yang ikut tanpa harus dipaksa. Justru masyarkakat merelakan diri untuk dijadikan alat produksi oleh elit dalam menggapai kekuasaan.\u00a0 Inilah titik penting penting dalam Marx, bila manusia menghendaki sebuah perubahan besar dalam kesejahteraan manusia maka upaya tersebut dapat dilakukan dengan membalik struktur ekonomi masyarakat, dengan mengubah kondisi material masyrakat.<\/p>\n<p>Namun tentunya perubahan tersebut tidak serta merta cukup dengan modal motivasi perubahan yang kemudian secara konstitutif akan mengubah segalanya melainkan <em>\u201cMan makes his own history, even though he does not do so under conditions of his own choosing,\u2019<\/em>\u201d bahwa manusia sejatinya dapat mengubah sejarah tapi, seperti promosi dalam kebanyakan iklan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. [*]<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n<p>Nyoto. 1962. <em>Marxisme: Ilmu dan Amalnya.<\/em> Jakarta: Penerbit Harian Rajat.<\/p>\n<p>Royce, E. 2015. <em>Classical Social Theory and Modern Society. Marx, Durkheim, Weber.<\/em> Londo: Rowman &amp; Littlefield.<\/p>\n<p>Suryajaya, M. 2012. <em>Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. <\/em>Yogyakarta: Ressit Book.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dodi Faedlulloh Apapun yang terjadi saat ini, kita bisa menyebut Revolusi Industri 4.0, Era Distrupsi, dan sebutan lain yang merepresentasikan situasi kontemporer tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan apa yang terjadi sebelumnya. Karena pada dasarnya kenyataan selalu bersifat historis. Maksudnya apa terjadi dalam setiap perubahan dalam kehidupan sosial pasti selalu ada suatu prasyarat yang melatarbelakangi. Ada intervensi tangan manusia, sejarah tidak tiba-tiba hadir begitu saja. Dalam hal ini, menarik untuk membaca ulang konsepsi materalisme historis Marx yang direkonstruksi oleh &hellip; <a class=\"readmore\" href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/2023\/10\/04\/membaca-materialisme-historis-melalui-rocye\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[32,30,31],"class_list":["post-125","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-book-review","tag-kapitalisme","tag-marx","tag-materialisme-historis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=125"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":128,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125\/revisions\/128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}