{"id":100,"date":"2023-10-04T17:20:30","date_gmt":"2023-10-04T10:20:30","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/?p=100"},"modified":"2023-10-04T21:32:21","modified_gmt":"2023-10-04T14:32:21","slug":"refleksi-65-tahun-sman-satas-pendidikan-pandemi-dan-kemanusiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/2023\/10\/04\/refleksi-65-tahun-sman-satas-pendidikan-pandemi-dan-kemanusiaan\/","title":{"rendered":"Refleksi 65 Tahun SMAN SATAS:  Pendidikan, Pandemi dan Kemanusiaan"},"content":{"rendered":"<div style=\"width: 710px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium\" src=\"https:\/\/www.koropak.co.id\/storage\/img\/cover\/sman-1-tasikmalaya.jpg\" width=\"700\" height=\"382\" \/><p class=\"wp-caption-text\">SMAN 1 Tasikmalaya<\/p><\/div>\n<p>Dodi Faedlulloh<\/p>\n<p><em>Alumni SMAN 1 Tasikmalaya, saat ini mengabdi sebagai Dosen di Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Universitas Lampung<\/em><\/p>\n<p>Dunia pendidikan secara global tengah mengalami tantangan yang luar biasa di kala pandemi. Tidak hanya pada substansi proses pembelajaran, tapi juga beberapa prasyarat penting dalam pendidikan pun terkena dampak. Memang, pada dasarnya dalam setiap perubahan zaman, dunia pendidikan harus bersikap <em>agile <\/em>menghadapi transformasi. Tetapi di tengah pandemi Covid-19, banyak hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sekolah harus ditutup, tapi pembelajaran mesti terus berjalan. Laporan dari Unesco, pada 1 April 2021, hampir 1,5 miliar anak di 173 negara harus mengikuti pembelajaran daring sebagai ganti model proses pembelajaran di sekolah.<\/p>\n<p>Sayangnya, permasalahannya pergantian model pembelajaran tidaklah mudah. Pandemi Covid-19 kembali mengangkat permasalahan sistemik pendidikan. Mulai perbedaan status sosial-ekonomi, infrastruktur yang tidak merata, kesenjangan konektivitas sampai kesenjangan literasi digital memberikan dampak pada aksesibilitas pendidikan yang berkualitas. Dengan kata lain, pandemi telah memperlebar kesenjangan pendididkan di Indonesia.<\/p>\n<p>Setelah lebih dari satu tahun, problem pembelajaran daring mulai menemui titik lembamnya. Siswa sudah mulai merasa bosan. Untuk konteks sekolah dasar, orang tua siswa sudah mulai kelelahan mendampingi anak-anaknya. Tidak semua orang tua memiliki <em>privilege<\/em> waktu dan kapasitas digital yang mencukupi. Dampaknya pembelajaran daring menjadi kurang efektif.<\/p>\n<p>Di sisi lain, saat ini dunia pendidikan sedang dalam fase meraba-meraba program baru \u201cMerdeka Belajar\u201d yang harapannya dapat memajukan pendidikan di Indonesia. Namun, program tersebut tentunya perlu direspon secara kritis. Merdeka belajar bukan obat mujarab sapu jagad pendidikan Indonesia di tengah prasyarat kualitas pendidikan yang belum merata. Makna program tersebut perlu diekstrapolasi dalam aksinya agar para siswa benar-benar bisa merdeka dalam proses\u00a0 belajar. Belajar dalam bentuk penemuan kembali <em>(reinventing<\/em>), penciptaan kembali (<em>recreacting<\/em>), penulisan ulang (<em>rewriting<\/em>) yang menjadi tugas seorang subjek (Freire: 2007). Mereka bisa menjadi subjek pembelajar yang peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Sehingga siswa, sebagai calon penerus generasi republik ini paham posisi dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Ikhtiar Bersama<\/strong><\/p>\n<p>Pandemi menghadirkan kondisi yang tidak menentu. Kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini selesai. Semua pihak yang bergiat dalam dunia pendidikan terkena dampak dan harus berpikir jauh lebih keras untuk bisa beradaptasi dalam berhadapan dengan pandemi, tidak terkecuali bagi SMAN 1 Tasikmalaya (Satas). Sebagai sekolah yang memiliki historis dan jejak rekam yang luas, posisi Satas cukup strategis untuk menjadi pelopor sebagai sekolah yang bisa memberikan kontribusi konkret bagi dunia pendidikan di Indonesia dalam tantangannya di tengah pandemi.<\/p>\n<p>Kita bisa belajar dari sejarah, bahwa selain dampak buruk, krisis juga kerap melahirkan peluang baru, imajinasi baru dan pemikiran baru untuk membangun kehidupan yang lebih segar. Begitupula tantangan di era pandemi. Enam puluh lima tahun eksistensi Satas adalah modal berharga. Pengalaman lebih dari satu abad di dunia pendidikan bisa menjadi pijakan tentang arah strategi pendidikan yang membebaskan pasca-pandemi. Pendidikan yang bertumpukan pada kemanusiaan.<\/p>\n<p>Satas telah banyak melahirkan para alumni yang berdiaspora lintas negara, melahirkan para pengusaha, pejabat publik, dokter, akademisi dan berbagai profesi lainnya. Capaian tersebut tentunya sangat berharga, tapi di tengah tantangan zaman yang membutuhkan segala sesuatu harus terintegrasi dan kondisi krisis karena pandemi yang selalu tidak pasti, Satas tampaknya perlu bergerak melampaui yang telah ada. Untuk melampauinya, Satas bisa mengambil jalan \u201csekolah sebagai ruang titik temu kemanusiaan\u201d.<\/p>\n<p>Alih-alih ideasi tentang teknologi yang memang pada dasarnya penting di era digital, saya membaca justru saat ini pendidikan kemanusiaan memiliki agenda yang sangat penting. Sebagai alumni, saya cukup yakin Satas bisa beradaptasi dalam hal membangun infrastruktur teknologi untuk menunjang pendidikan. Teknologi adalah instumen semata, hal yang substantif adalah membangun manusia yang peka terhadap kemanusiaan. Oleh karenanya, dalam usianya yang menempuh 65 tahun, Satas bisa mulai kembali masuk dalam diskursus dan praktika kemanusiaan.<\/p>\n<p><strong>Pendidikan Kemanusiaan<\/strong><\/p>\n<p>Pandemi memberi pelajaran kepada umat manusia bahwa kondisi hidup bisa berubah sangat cepat. Kita masih ingat pada awal pandemi, bahkan sampai sekarang, banyak para pekerja di Indonesia yang harus dirumahkan dan di-PHK, atau para pelaku usaha harus gulung tikar. Dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan mereka adalah keluarga besar kita; alumni Satas. Dengan kondisi ini, Satas bisa hadir sebagai ruang titik temu kemanusiaan. Berpikir dan mencari solusi bersama. Itu mungkin mimpi besarnya, tentu perlu energi dan nafas yang panjang agar bisa mencapai posisi ideal tersebut. Akan tetapi untuk menempuh mimpi itu, tetap perlu langkah awal. Cita-cita \u201cmencerdaskan kehidupan bangsa\u201d bisa diawali dengan menjadikan pendidikan kemanusiaan yang menubuh dalam proses pembelajaran sehari-hari di sekolah.<\/p>\n<p>Distingsi kelas IPA dan IPS tidak lagi relevan. Semua orang bisa berkontribusi pada kemanusiaan. Seperti dalam realitas pandemi saat ini menunjukkan para ilmuan yang berbasis ilmu eksakta dan ilmu sosial humaniora di dunia semuanya harus bersinergi bahu membahu membantu untuk segera keluar dari jeratan pandemi. Kondisi ini perlu ditunjukkan kepada para siswa, hal yang penting dan berharga dari manusia adalah menjadi manusia.<\/p>\n<p>Pandemi dan Merdeka Belajar adalah momentum untuk menginiasi ikhtiar itu. Oleh karenanya, Satas bisa memaknai secara kritis Merdeka Belajar sebagai proses siswa untuk menggali ilmu hidup yang peka pada kondisi sosial. Daya kritis siswa perlu diasah dengan memposisikan mereka sebagai subjek yang harus belajar dan peka tentang isu kemiskinan, ekologi, toleransi antar manusia (dan isu lainnya) agar menjadi bekal di masa depan sebagai manusia yang bermartabat. Proses tersebut mesti berjalan secara demokratis.<\/p>\n<p>Para siswa diberikan kebebasan dalam memilih isu tersebut dalam proses belajar dan langsung \u201cterjun\u201d bersama masyarakat. Guru bisa menjadi pendamping dan menilai proses keaktifan, daya kritis, komunikasi, kolaborasi, kedisiplinan, dan tanggungjawab siswa. Hasil dari belajar bersama masyarakat itu dituangkan dalam bentuk karya ilmiah sebagai portofolio yang dipresentasikan secara terbuka dan dievaluasi bersama sebagai proses pembelajaran. Pengalaman dari siswa dimaknai secara kolektif dialogis dan direfleksikan bersama-sama.<\/p>\n<p>Pengalaman di masa sekolah akan menjadi jejak memori sampai kapanpun. Memori kemanusiaan yang pernah ditempuh kelak akan menjadi pedoman hidup. Sehingga di manapun nanti para alumni Satas berada, akan ada satu momen yang kelak kembali mempersatukan: kemanusiaan. [*]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dodi Faedlulloh Alumni SMAN 1 Tasikmalaya, saat ini mengabdi sebagai Dosen di Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Universitas Lampung Dunia pendidikan secara global tengah mengalami tantangan yang luar biasa di kala pandemi. Tidak hanya pada substansi proses pembelajaran, tapi juga beberapa prasyarat penting dalam pendidikan pun terkena dampak. Memang, pada dasarnya dalam setiap perubahan zaman, dunia pendidikan harus bersikap agile menghadapi transformasi. Tetapi di tengah pandemi Covid-19, banyak hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sekolah harus ditutup, tapi pembelajaran mesti terus &hellip; <a class=\"readmore\" href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/2023\/10\/04\/refleksi-65-tahun-sman-satas-pendidikan-pandemi-dan-kemanusiaan\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[35,22,25,23,24],"class_list":["post-100","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini","tag-kemanusiaan","tag-pandemi","tag-pendidikan","tag-sman-1-tasikmalaya","tag-tasikmalaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":131,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100\/revisions\/131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/dodifaedlulloh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}