{"id":289,"date":"2010-10-19T01:17:15","date_gmt":"2010-10-19T01:17:15","guid":{"rendered":"http:\/\/dwijim.wordpress.com\/?p=289"},"modified":"2010-10-19T01:17:15","modified_gmt":"2010-10-19T01:17:15","slug":"ada-satu-kisah-yang-sangat-berharga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/2010\/10\/19\/ada-satu-kisah-yang-sangat-berharga\/","title":{"rendered":"Ada satu kisah yang sangat BERHARGA &#8230;"},"content":{"rendered":"<p>Tulisan ini dicuplik dari email &#8230;<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<\/p>\n<p>Sahabat Hikmah&#8230;<\/p>\n<p>Ada satu kisah yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik<br \/>\nLeadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi<br \/>\nsekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliau menceritakan satu kisah<br \/>\ndengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai. Berikut ini adalah<br \/>\nkisahnya:<\/p>\n<p>Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur. Saya sudah<br \/>\nberusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap,<br \/>\nmasih susah tidur juga. Sungguh cobaan yang sangat berat. Akhirnya saya membawa<br \/>\nistri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya. Sudah 3<br \/>\nhari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya. Kemudian saya<br \/>\npindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor. Selama berada di RS Azra, istri saya<br \/>\nbadannya panas dan selalu kehausan sehingga setiap malam minum 3 galon air Aqua.<br \/>\nSetelah dirawat 3 bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui<br \/>\npenyakitnya.<\/p>\n<p>Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Mereka di Jakarta dan langsung<br \/>\ndi rawat di ruang ICU. Satu malam berada di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp<br \/>\n2,5 juta. Badan istri saya \u2013maaf- tidak memakai sehelai pakaian pun. Dengan<br \/>\nditutupi kain, badan istri saya penuh dengan kabel yang disambungkan ke monitor<br \/>\nuntuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum<br \/>\nbisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.<\/p>\n<p>Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui<br \/>\nsaya dan bertanya, \u201cPak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti<br \/>\nobat istri bapak.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya<br \/>\nmemang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter<br \/>\nminta izin ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cIni beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke<br \/>\nistri bapak.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBerapa harganya dok?\u201d<\/p>\n<p>\u201cObat untuk satu kali suntik 12 juta pak.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSatu hari berapa kali suntik dok?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSehari 3 kali suntik.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBerarti sehari 36 juta dok?\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya pak Jamil.\u201d<\/p>\n<p>\u201cDok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis<br \/>\nuntuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi.<br \/>\nTolong temukan penyakit istri saya dok.\u201d<\/p>\n<p>\u201cPak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri<br \/>\nbapak. Kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak<br \/>\nlaboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTolong dok\u2026., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya<br \/>\nakan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari\u201d<\/p>\n<p>\u201cPak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan<br \/>\npenyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya.\u201d<br \/>\nKemudian dokter memeriksa lagi.<\/p>\n<p>\u201cIya dok.\u201d<\/p>\n<p>Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka\u2019at. Selesai shalat<br \/>\ndhuha, saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah<br \/>\nmemuji Allah dan bershalawat kepada Rasululloh,<\/p>\n<p>\u201cYa Allah, ya Tuhanku\u2026.., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi<br \/>\nnegatif apa yang aku lakukan sehingga engkau menguji aku dengan penyakit istriku<br \/>\nyang tak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya<br \/>\nAllah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit<br \/>\ntak kunjung sembuh ? sembuhkanlah istriku ya Allah. Bagimu amat mudah<br \/>\nmenyembuhkan penyakit istriku semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka<br \/>\nbumi ini ya Allah.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, \u201cYa Allah, gerangan maksiat apa<br \/>\nyang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga<br \/>\naku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?\u201d saya teringat kejadian<br \/>\nberpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak<br \/>\nRp150,-.<\/p>\n<p>Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP<br \/>\nbulanannya adalah Rp 25,-. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya,<br \/>\n\u201cJaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar SPP ? JaMil, kapan membayar<br \/>\nSPP ?\u201d Malu saya. Dan ketika waktu istrirahat saya pulang dari sekolah, saya<br \/>\nmenemukan ada uang Rp150,- di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,-<br \/>\nuntuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.<\/p>\n<p>Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, \u201cYa Allah, gerangan maksiat apa?<br \/>\nGerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak<br \/>\nkunjung sembuh?\u201d saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya<br \/>\nmengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya ??. Maka saya<br \/>\nberkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan<br \/>\nistri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. Setelah itu<br \/>\nsaya menelpon ibu saya,<\/p>\n<p>\u201cAssalamu\u2019alaikum Ma\u2026\u201d<\/p>\n<p>\u201cWa\u2019alaikumus salam Mil\u2026.\u201d Jawab ibu saya.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana kabarnya Ma ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cIbu baik-baik saja Mil.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTrus, bagaimana kabarnya anak-anak Ma ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu<br \/>\ntidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu saja. Bagaimana<br \/>\nkabar istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak ?\u201d \u2013dengan suara terbata-bata dan<br \/>\nmenahan sesenggukan isak tangisnya-.<\/p>\n<p>\u201cBelum sembuh Ma.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYang sabar ya Mil.\u201d<\/p>\n<p>Setelah lama berbincang sana-sini \u2013dengan menyeka butiran air mata yang keluar-,<br \/>\nsaya bertanya, \u201cMa\u2026, Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cYang mana Mil ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal ?\u201d<\/p>\n<p>Kemudian di balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini<br \/>\nyang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)<br \/>\n\u201cMil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya.\u201d (suara mama semakin<br \/>\npilu dan menyayat hati),<\/p>\n<p>\u201cGara-gara uang itu hilang, mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara<br \/>\nuang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu<br \/>\nitu mama punya hutang sama orang kaya di kampung kita Mil. Uang itu sudah siap<br \/>\ndan mama simpan di bawah bantal namun ketika mama pulang, uang itu sudah tidak<br \/>\nada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohon maaf karena<br \/>\nuang yang sudah mama siapkan hilang. Mendengar alasan mama, orang itu<br \/>\nmerendahkan mama Mil. Orang itu mencaci-maki mama Mil. Orang itu menghina mama<br \/>\nMil, padahal di situ banyak orang. &#8230;rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan<br \/>\nbanyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil<br \/>\ntetapi mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT&#8230;. SAKIT&#8230; SAKIT rasanya.\u201d<\/p>\n<p>Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit<br \/>\nhati yang dialami mama pada waktu itu, saya bertanya, \u201cMama tahu siapa yang<br \/>\nmengambil uang itu ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cTidak tahu Mil\u2026Mama tidak tahu.\u201d<\/p>\n<p>Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,<\/p>\n<p>\u201cMa, yang mengambil uang itu saya Ma\u2026.., maka melalui telphon ini saya memohon<br \/>\nkeikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma\u2026., Jamil berjanji nanti kalau<br \/>\nbertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama mama. Maafkan saya Ma, maafkan<br \/>\nsaya\u2026.\u201d<\/p>\n<p>Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana,<\/p>\n<p>\u201cAstaghfirullahal \u2018Azhim\u2026.. Astaghfirullahal \u2018Azhim\u2026.. Astaghfirullahal<br \/>\n\u2018Azhim\u2026..Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia<br \/>\nadalah putraku. Maafkanlah dia ya Allah, ridhailah dia ya Rahman, ampunilah dia<br \/>\nya Allah.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMa, benar mama sudah memaafkan saya ?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMil, bukan kamu yang harus meminta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama<br \/>\nkamu Mil karena terlalu lama mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau<br \/>\nyang mengambil uang itu adalah kamu Mil.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMa, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMil, sudah lupakan semuanya. Semua kesalahanmu telah saya maafkan, termasuk<br \/>\nmengambil uang itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMa, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa Allah, ya Tuhanku\u2026.pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang<br \/>\nmengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahannya<br \/>\nyang lain. Ya Allah, sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku ya Allah.\u201d<\/p>\n<p>Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terima kasih kepada mama.<br \/>\nDan itu selesai pada pukul 10.00 wib, dan pada pukul 11.45 wib seorang dokter<br \/>\nmendatangi saya sembari berkata,<br \/>\n\u201cSelamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa dok?\u201d<\/p>\n<p>\u201cInfeksi prankreas.\u201d<\/p>\n<p>Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan,<br \/>\n\u201cTerima kasih dokter, terima kasih dokter. Terima kasih, terima kasih dok.\u201d<\/p>\n<p>Selesai memeluk, dokter itu berkata, \u201cPak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya<br \/>\npemeriksaan yang kami lakukan sama dengan sebelumnya. Namun pada hari ini<br \/>\nterjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas. Dan kami meminta izin<br \/>\nkepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu<br \/>\nmengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi<br \/>\nagar lebih mudah.\u201d<\/p>\n<p>Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke<br \/>\nBogor untuk sungkem kepada mama bersimpuh meminta maaf kepadanya, \u201cTerima kasih<br \/>\nMa\u2026., terima kasih Ma.\u201d<\/p>\n<p>Namun\u2026., itulah hebatnya seorang ibu. Saya yang bersalah namun justru mama yang<br \/>\nmeminta maaf. \u201cBukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya<br \/>\nminta maaf.\u201d<\/p>\n<p>Sahabat Hikmah&#8230;<br \/>\nMaha benar sabda Rasulullaah shalallaahu \u2019alaihi wa sallam :<br \/>\n&#8220;Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung<br \/>\nkepada kemurkaan orang tua&#8221; (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)<\/p>\n<p>&#8220;Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka:<br \/>\norang yang berpuasa sampai dia berbuka,<br \/>\nseorang penguasa yang adil,<br \/>\ndan doa orang yang teraniaya.<br \/>\nDoa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan<br \/>\nAllah bertitah, &#8216;Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu)<br \/>\nmeskipun tidak segera.&#8221; (HR. Attirmidzi)<\/p>\n<p>Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:<\/p>\n<p>Bila kita seorang anak:<br \/>\n* Janganlah sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka akan<br \/>\nmembuat murka Allah subhanau wa ta\u2019ala. Dan bila kita ingin selalu diridloi-Nya<br \/>\nmaka buatlah selalu orang tua kita ridlo kepada kita.<br \/>\n* Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi<br \/>\nkepada kedua orang tua, karena doa orang teraniaya itu terkabul.<\/p>\n<p>Bila kita sebagai orang tua:<br \/>\n* Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan<br \/>\nkita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta\u2019ala, dan kadang penyesalan<br \/>\nadalah ujungnya.<br \/>\n* Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada Anak, berdoalah untuk<br \/>\nkebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka.<\/p>\n<p>Semoga bermanfaat dan bisa mengambil HIKMAH..<\/p>\n<p>Wassalam<\/p>\n<p>Diambil dari Mutiara Hikmah  <\/p>\n<p>Best Regards,<br \/>\nF Festivalia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan ini dicuplik dari email &#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Sahabat Hikmah&#8230; Ada satu kisah yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer Kubik Leadership yang bernama Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe &hellip; <a class=\"readmore\" href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/2010\/10\/19\/ada-satu-kisah-yang-sangat-berharga\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,494],"tags":[],"class_list":["post-289","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-ke-islam-an"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=289"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/0011066803\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}